Hukum Transaksi Go-pay

Kamis, 10 Oktober 2019 diskusi 268 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Teknologi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat luas. Ojek online merupakan salah satu contoh nyata produk teknologi yang memberikan kemudahan bagi manusia dalam menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan ojek online di antara lain; lebih efisien, menghemat waktu, harga yang lebih murah dibanding ojek-ojek pangkalan. Terkait harga, ojek onlinepun sering menawarkan promosi atau potongan harga jika bayar menggunakan fitur yang dikenal dengan nama Go-pay.

Go-pay adalah layanan pembayaran online yang disediakan oleh perusahaan Gojek. Pada mulanya ojek online hanya menerima pembayaran lewat uang tunai (cash). Belakangan ojek online menyediakan layanan pembayaran secara digital yang memiliki berbagai benefit dibanding pembayaran uang tunai (cash), Di antara kemudahan yang ditawarkan adalah costumer tidak perlu membawa uang cash serta adanya potongan harga atau promosi.

Tentang penggunaan transaksi digital ini, umat Islam di Indonesia terbelah ke dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang melarang penggunaan transaksi digital semacam Go Pay. Alasannya, karena ada unsur riba di dalamnya. Maksud unsur riba adalah adanya keuntungan yang diperoleh dari pemberian pinjaman.

Menurut pendukung kelompok ini, dalam transaksi ala Go-pay, konsumen memberi uang kepada perusahaan penyedia layanan sebagai bentuk pinjaman (qardhu). Ketika pihak penyedia layanan memberi keuntungan kepada konsumen berupa diskon atau promo, maka hal itu merupakan keuntungan tambahan yang diperoleh melalui transaksi hutang. Ia termasuk dalam kategori riba. Kesimpulannya, berdasarkan perspektif ini, transaksi digital Go-pay hukumnya haram. Berada dalam barisan ini adalah Firanda Andirja, Erwandi Tarmizi, dan lainnya.

Kedua, kelompok yang membolehkan dan menilai tidak ada unsur riba di dalamnya. Transaksi antara konsumen dengan penyedia layanan tidak tepat jika disebut pemberian utang. Yang lebih tepat adalah titipan (wadi’ah). Keuntungan yang diperoleh oleh konsumenseperti berbagai bentuk promo dan diskon adalah bentuk tabarru’ (sedekah) dari pihak penyedia layanan. Dengan perspektif ini, tidak ada utang dan tidak ada riba. Kesimpulannya, transaksi digital ala Go Pay adalah halal dan mubah. Di antara yang berada dalam barisan ini adalah Oni Sahroni, Muhammad Syamsuddin, Buya Yahya, Ammi Nur Baits dan lainnya.

Adanya perbedaan pendapat ini tidak perlu membuat masyarakat resah. Karena jika masyarakat meniatkan ketika membayar meniatkan untuk menitipkan uang untuk mendapatkan sejumlah layanan, maka secara otomatis akad yang dilakukan bukan pinjam meminjam. Karenanya, niat seseorang di sini menjadi penting. Perbedaan pendapat ini juga memberi masyarakat alternatif pilihan. Jika memang tidak nyaman dengan layanan Go-pay, seseorang bisa menggunakan layanan pembayaran secara cash.

Demikian penjelasan singkat tentang hukum transaksi digital ala Go-pay. Semoga bermanfaat bagi umat Islam. (M. Khoirul Huda)