Hukum Tahlilan Menurut Syekh Ali Jum’ah

Selasa, 8 Oktober 2019 diskusi 109 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Tahlil berarti pengucapan kalimat tauhid (la ilaha illallah), tiada tuhan selain Allah. Sedangkan Tahlilan menurut KBBI berarti pembacaan ayat ayat suci Alquran untuk memohonkan rahmat dan ampunan bagi arwah orang yang meninggal.

Dalam pengertian kedua ini, biasanya keluarga orang yang meninggal mengundang para tetangga, ulama, kiai atau orang shaleh untuk memimpin pembacaan doa. Kegiatan ini biasanya diakhiri dengan pembagian makanan jadi atau bahan makanan sekadarnya.

Kegiatan semacam ini sering mendapat pertentangan dari sebagian kalangan umat Islam. Mereka menilai kegiatan semacam itu bertentangan dengan ajaran Islam versi mereka. Permasalahan ini pernah ditanyakan kepada lembaga fatwa Mesir, Dar Al Ifta’ Al Mishriyyah. Syekh Ali Jum’ah, sebagai mufti besar saat itu, memberikan jawaban yang sangat kuat.

Dalam fatwa nomor seratus enam puluh tujuh, tertanggal Sembilan juli 2008, masuk sebuah pertanyaan sebagai berikut: ketika seseorang meninggal, keluarganya mengundang para ulama dan masyarakat umum setelah beberap hari ke rumahnya. Mereka berkumpul, membaca shalat dan salam kepada Nabi SAW. Mereka mendoakan si mayit dan seluruh umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Dalam kegiatan ini, keluarga mayit menyajikan makanan untuk orang orang yang hadir karena mereka telah berkenan menghadiri undangan dan untuk menyenangkan keluarga mayit. Apakah dalam kegiatan semacam ini terdapat perkara yang diharamkan dalam syarak? Apakah masyarakat boleh memakan makanan yang disediakan?

Menanggapi pertanyaan ini, Syekh Ali Jum’ah menjawab:Tidak ada larangan berkumpul semacam ini menurut syariat. Dengan syarat, dalam kegiatan ini tidak terdapat upaya menambah kesedihan. Dan harta yang digunakan tidak berasal dari harta warisan. Bila di dalamnya terdapat perkara yang dapat menimbulkan kesedihan keluarga mayit atau menambah kesedihannya, maka makruh hukumnya. Jika biaya yang dikeluarkan berasal dari harta warisan, maka haram.

Golongan Hanafiyah membahas masalah ini dan terjadi silang pendapat di antara mereka.  Sebagian berpendapat bahwa hukumnya berkumpul semacam itu makruh. Tetapi golongan lain menghukumi mubah (jaiz).

Dalam kitab Maraqi Al Falah Syarah Nur Al Hidayah (340 sampai 339) berkata, “(Makruh menyajikan sesuatu oleh keluarga mayit) Penulis Al Bazaziyah menulis, dimakruhkan membuat makanan pada hari pertama dan ketiga, dan hari ketujuh. Begitu pula membawa makanan ke makam dan tempat berkumpul. Makruh mengundang tetangga untuk pembacaan Al Quran, mengumpulkan orang orang shaleh dan orang yang bisa membaca Al Quran untuk melakukan khataman atau membaca surat Al An’am atau Al Ikhlash.” Syekh Al Burhan Al Halb berkata, “Pendapat yang menilai makruh tidak lepas dari kritik. Hal ini karena tidak ada dalil yang menunjukkan kemakruhan kecuali hadis yang diriwayatkan sahabat Jarir yang telah disebut. Hadis itu diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang sahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, “Kami bersiap berkumpul ke rumah keluarga mayit dan makanan buatan mereka sebagai bentuk rapatan (niyahah).” Maksudnya adalah kegiatan yang biasa dilakukan pada masa Jahiliyyah. Kemakruhan yang ditunjukkan oleh hadis ini hanya ketika masa kematian saja. Di sisi lain, hadis ini bertentangan dengan riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud yang berkualtias sahih:

أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، مِنَ الْأَنْصَارِ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ: "أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ"، فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ، ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ، فَأَكَلُوا، فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ، ثُمَّ قَالَ: "أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا"، فَأَرْسَلَتِ الْمَرْأَةُ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً، فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدِ اشْتَرَى شَاةً، أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا، فَلَمْ يُوجَدْ، فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَطْعِمِيهِ الْأُسَارَى" , (د) 3332 [قال الألباني]: صحيح

Dari Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari seorang sahabat Anshar yang berkata, “Rasulullah SAW pergi keluar bersama kami mengantarkan jenazah. Setelah selesai, seorang lelaki utusan istri si mayit menemui Nabi SAW. Nabi SAW mendatangi rumah keluarga si mayit. Didatangkan makanan. Nabi SAW meletakkan tangannya dan demikian pula para sahabat. Mereka makan dan Rasulullah SAW memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.”

Hadis ini menunjukkan kebolehan memasak makanan bagi keluar si mayit dan mengundang para tetangga. Penulis kitab Al Bazaziyah menulis dalam bab istihsan, “Jika keluarga mayit memasak untuk para fakir miskin, maka hal itu baik.”

Dalam bab istihsan dari kitab  Al Khaniyyah, “Jika keluarga mayit memasak makanan untuk orang orang fakir, maka itu baik. Kecuali jika di antara ahli waris terdapat anak kecil, maka hendaknya tidak diambil dari harta tinggalan.”

Penulis kitab Syir’ah Al Islam Wa Al Sunnah berkata, “Sunnahnya keluarga mayit bersedekah untuk mayit sebelum lewatnya malam pertama setelah meninggal dengan sesuatu yang mudah disedekahkan. Jika tidak menemukan sesuatu pun, hendaknya dia shalat sunnah dua rakaat. Kemudian menghadiahkan pahalanya kepada si mayit.”

Ia juga menulis, “Dianjurkan bersedekah untuk mayit setelah pemakaman sampai tujuh hari pada setiap harinya dengan perkara yang mudah disedekahkan.”

Dari sini, Syekh Ali Jum’ah kemudian mengambil kesimpulan bahwa tidak ada larangan mengadakan kegiatan semacam ini. Tidak berdosa orang yang memakan makanan yang telah disediakan keluarga mayit.

Demikian adalah penjelasan Syekh Ali Jum’ah tentang masalah berkumpul, makan, sedekahan, dan membaca Al Quran guna memohonkan rahmat dan ampunan untuk mayit. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam. (M. Khoirul Huda)