Hukum Selfie dalam Pandangan Islam

Kamis, 1 Agustus 2019 diskusi 132 klik
Faza Grafis:Faza

Selfie adalah memotret diri sendiri dengan menggunakan "second camera" atau kamera depan yang terdapat pada smartphone. Si pelaku selfie biasanya "ngaca" terlebih dahulu dan mengatur mimik wajahnya agar mendapatkan hasil foto yang bagus dan siap untuk di posting di media sosial. Menurut hemat penulis, antara selfie dan berfoto tidak ada bedanya. Namun, selfie identik dengan memotret diri sendiri khususnya pada area wajah dan berfoto tidak harus selalu seperti itu.

Di zaman modern seperti sekarang, trend selfie layaknya sudah menjadi kebutuhan bagi sebagian orang dari mulai anak kecil hingga orang yang sudah berumur tidak lepas dari trend selfie ini. Dan seperti biasa, tidak sedikit orang bertanya bagaimana hukum selfie?. Tentunya di kalangan para pelajar ilmu agama islam (santri) hal seperti ini sering di jadikan objek dalam kegiatan "bahtsul masa-il", yaitu suatu kegiatan semacam diskusi yang bertujuan untuk mengetahui status hukum suatu perkara menurut kacamata fiqh.

Lalu, bagaimana menurut kacamata fiqh perihal fenomena tersebut? Berfoto merupakan perkara mu'amalah yang hukum asalnya boleh. Menurut kaidah fiqh:

الأَصْلُ فِى الْمُعَامَلَةِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى تَحْرِيْمِهَا

(Asal hukum mu’amalah adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya).

Namun, selfie bisa menjadi haram apabila dapat menimbulkan fitnah atau mendorong orang lain berkomentar negatif seperti berfoto selfie sambil membuka aurat. Dalam kitab Al Fiqh Al Islamiy wa Adillatuhu karya Syaikh Wahbah az-Zuhayli juz 4 halaman 224 disebutkan:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين

(Adapun hukum gambar dari hasil kamera itu boleh, tidak dilarang pula memajang foto di rumah dan lainnya, selama tidak mendatangkan fitnah seperti gambar wanita yang tampak sesuatu dari jasadnya selain wajah dan kedua telapak tangan).

Jadi, hukum selfie adalah boleh selama tidak menimbulkan fitnah yakni suatu hal yang dapat mendorong kemaksiatan atau ketertarikan hati untuk melakukan zina. Adapun haram atau tidaknya, kembali kepada niat si pelaku selfie, apabila dilakukan bertujuan untuk hal hal yang diharamkan maka selfie menjadi haram. Wallaahu A’lam. (Sumber: nu.online)