Hukum Merokok Menurut Para Ulama


Rokok merupakan fenomena baru dalam kehidupan umat Islam. Bersamaan dengan menyebarnya komoditas tembakau ke seluruh dunia, rokok masuk ke dunia Muslim. Hal ini menarik perhatian para ahli hukum Islam. Karena tidak terdapat nash Al-Quran maupun Hadis yang menjelaskan keharaman atau kehalalannya, para ulama pun berbeda pendapat. Sebagaimana direkam oleh Syekh Ihsan bin Dahlan Al-Jampesi Al-Kediri dalam kitab Syarah Manzhumah Irsyad Al-Ikhwan Fi Bayani Ahkam Syurb Al-Qahwah Wa Al-Dukhan, setidaknya terdapat tiga pendapat utama.

Pertama, pendapat yang mengharamkan rokok. Argumen utamanya adalah rokok dianggap dapat membahayakan tubuh. Hal ini termasuk dharar (bahaya) yang dapat mengancam nyawa dan kesadaran akal manusia. Di antara pendukung pendapat ini adalah Syekh Al-Qalyubi, Syekh Al-Luqqani, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Syekh Abdullah Al-Haddad. Di antara ulama yang mengarang kitab khusus untuk menjelaskan keharamannya adalah:

  1. Muhammad Al-Jamali Al-Maghribi dalam kitab Tanbih Al-Ghaflan Fi Man’i Syurb Al-Dukhan,
  2. Abdul Malik Al-‘Ishami Risalah Fi Tahrim Al-Dukhan
  3. Sulaiman Al-Falati, Ghayat Al-Kasyfi Wa Al-Bayan Fi Tahrim Syurb Al-Dukhan
  4. Muhammad Sulaiman Al-Maliki, Al-Adillah Al-Hisan Fi Bayan Tahrim Syurb Al-Dukhan
  5. Muhammad Al-Tharabisyi, Manzhumah Al-Uqud Al-Jawahir Al-Hisan Fi Bayan Hurmati Al-Tubaghi Al-Masyhur Bi Al-Dukhan
  6. Ibrahim Al-Wa’izh, Risalah Fi Tahrim Al-Dukhan
  7. Abu Sahl Muhammad Al-Wa’izh, Risalah Fi Tahrim Al-Tunbak Bin Al-Zhanni Zhanna Wa Bi Al-Karahati Bi Al-Qath’i Qath’an
  8. Muhammad bin Ali bin ‘Ilan Al-Shiddiqi, Tuhfat Dzawi Al-Idrak Fi Al-Man’i Min Al-Tunbak
  9. Muhammad Al-Susi Al-Maghribi, Kasyf Al-Ghasaq ‘An Qalb Al-Fata Fi Al-Tanbih ‘Ala Tahrim Dukhan Al-Waraq
  10. Dan lainnya.

Kedua, pendapat yang menghukumi mubah. Dasar utama pendapat ini adalah kaidah hukum yang mengatakan, hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama belum ada dalil yang mengharamkan. Pendapat ini didukung sejumlah ulama seperti Syekh Ali Al-Syibramalisi, Syekh Sulthan Al-Halbi, dan Syekh Al-Barmawi. Di antara ulama yang secara khusus menulis kitab guna menjelaskan kemubahannya adalah:

  1. Abdul Ghani Al-Nabulisi, Al-Shulh Baina Al-Ikhwan Fi Hukm Ibahat Al-Dukhan
  2. Nuruddin Al-Ajhuri, Al-Ghayat Al-Bayyin Li Hilli Ma La Yughayyib Al-‘Aqla Min Al-Dukhan
  3. Salamah Al-Radhi Al-Syadzili, Al-I’lan Bi ‘Adam Tahrim Al-Dukhan
  4. Mahmud bin Salamah Al-Radhi, Ta’yid Al-I’lan Bi ‘Adam Tahrim Al-Dukhan
  5. Abu Al-Hasanat Al-Laknawi, Tarwih Al-Janan Fi Tasyrih Hukm Syarib Al-Dukhan
  6. Abu Al-Fa Al-‘Irdhi, Hukm Isti’mal Al-Dukhan
  7. Al-Amir Al-Shan’ani Muhammad bin Ismail, Al-Idrak Li Dha’f Al-Adillah Fi Tahrim Al-Tunbak
  8. Ahmad Kaukab Zadah, Risalah Fi Al-Radd Ala Man Harrama Al-Dukhan
  9. Abdus Salam Al-Nabulisi, Al-Saif Al-Qadhi Fi Raqabati Al-Fulan Al-Qadhi
  10. Dan lainnya.

Ketiga, pendapat yang menghukumi makruh. Argumennya, ketika terjadi khilafiyah dengan dalil keharaman yang kuat, hal ini menunjukkan adanya larangan khusus tetapi tidak kuat (nahy ghairu jazim). Larangan yang tidak kuat menunjukkan hukum makruh. Pendapat ini merupakan fatwa Syekh Ibrahim Al-Bajuri, Syekh Abdul Hamid, Syekh Al-Syarqawi, Syekh Al-Kurdi, Syekh Jamal Al-Ramli, dan Syekh Muhammad Sa’id Ba Bushail. Wallahu a’lam. (Khoirul Huda)