Hukum Mengadakan Peringatan Maulid Menurut KH. Hasyim Asy’ari

Selasa, 27 November 2018 diskusi 767 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Faza Grafis:Faza

Mengadakan peringatan maulid Nabi Saw hampir dilakukan di setiap negara yang berpenduduk Muslim, termasuk di Indonesia. Bahkan khusus di Indonesia, peringatan maulid Nabi Saw sudah menjadi tradisi dan dirayakan besar-besaran seperti hari raya Idulfitri dan Iduladha. Setiap desa, kabupaten, bahkan hingga istana negara mengadakan peringatan maulid Nabi Saw.

Dalam kitab Al-Tanbihatul Wajibat, KH. Hasyim Asy’ari (W. 1366 H) mengatakan bahwa mengadakan peringatan maulid yang diisi dengan bacaan Al-Quran, kisah kemuliaan Nabi Saw, disuguhi hidangan makanan atau bahkan diiringi dengan tabuhan rebana, termasuk perbuatan yang tidak dilarang dalam Islam. Bahkan banyak para imam dan ulama menganjurkan agar senantiasa mengadakan peringatan maulid setiap bulan Rabiul Awal, bulan Nabi Saw dilahirkan.

KH. Hasyim Asy’ari dengan tegas mengatakan sebagai berikut;

اَلتَّنْبِيْهُ الْأَوَّلُ يُؤْخَذُ مِنْ كَلَامِ الْعُلَمَاءِ الْآتِيْ ذِكْرُهُ أَنَّ الْمَوْلِدَ الَّذِيْ يَسْتَحِبُّهُ الْأَئِمَّةُ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةِ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَإِ أَمْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا وَقَعَ فِيْ حَمْلِهِ وَمَوْلِدِهِ مِنَ الْإِرْهَاصَاتِ وَمَا بَعْدَهُ مِنْ سِيَرِهِ الْمُبَارَكَاتِ ثُمَّ يُوْضَعُ لَهُمْ طَعَامٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَ وَإِنْ زَادُوْا عَلَى ذَلِكَ ضَرْبَ الدُّفُوْفِ مَعَ مُرَاعَاةِ الْأَدَبِ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ

“Peringatan pertama. Dikutip dari perkataan para ulama yang akan disebutkan nanti, bahwa maulid yang dianjurkan oleh para imam adalah kegiatan berkumpulnya masyarakat, dibacanya ayat yang mudah dari Al-Quran, dibacakannya riwayat tentang permulaan kehidupan Nabi Saw, kejadian istimewa sejak dalam kandungan dan kelahirannya, dan sejarah yang penuh berkah setelah dilahirkan. Kemudian disajikan beberapa hidangan untuk mereka. Mereka menyantapnya dan selanjutnya mereka bubar. Jika mereka menambahkan atas perkara di atas dengan memukul rebana dengan menjaga adab, maka hal itu tidak apa-apa.”

Salah satu tujuan mengadakan peringatan maulid adalah berkumpul untuk membaca shalawat atas Nabi Saw, mengagungkan kedudukannya, dan menampakkan kebahagiaan dan suka cita di hari dan bulan kelahirannya. Tentu semua ini termasuk perbuatan baik dan terpuji. Bahkan menurut Imam Al-Suyuthi (w. 911 H), mengadakan peringatan maulid termasuk perbuatan akan mendapatkan pahala dari Allah karena mengagungkan Nabi Saw di dalamnya. (Jurianto)