Hukum Melafalkan Niat dalam Empat Mazhab

Minggu, 27 Januari 2019 diskusi 312 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Assalamualaikum. Saya ingin bertanya, bagaimana hukumnya melafalkan niat menurut mazhab empat, karena sekarang banyak orang yang membid’ahkan amalan tersebut. Terima kasih. Wassalamualaikum

Waalaikum salam Wr. Wb.

Niat merupakan perbuatan yang sangat penting dalam Islam. Rasulullah SAW mengatakan bahwa amal ibadah harus dimulai dengan niat. Niat menjadi penentu keabsahan sebuah ibadah. Karena itulah para ulama yang telah meneliti petunjuk Rasulullah SAW selalu membahasnya dalam kitab-kitab mereka.

Pembahasannya terkait dengan tata cara berniat, tempat niat, pembatal niat dan lainnya. Para ulama ahli fikih sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Jika lisan mengatakan sesuatu tetapi hati tidak meniatkannya, maka sebuah amalan belum dianggap absah. Belum cukup.  Kesepakatan lainnya, para ulama empat mazhab menyepakati bahwa melafalkan niat bukan syarat sah sebuah niat. Jadi, tanpa dilafalkan pun, niat dalam sebuah ibadah sudah sah.

Tetapi mengenai hukum melafalkan niat dengan lisan, para ulama dari empat mazhab berbeda pendapat. Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah menyebutkan,

ثُمَّ إِنَّ الْفُقَهَاءَ اخْتَلَفُوا فِي الْحُكْمِ التَّكْلِيفِيِّ لِلتَّلَفُّظِ بِالنِّيَّةِ: فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ فِي الْمُخْتَارِ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الْمَذْهَبِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ سُنَّةٌ لِيُوَافِقَ اللِّسَانُ الْقَلْبَ وَذَهَبَ بَعْضُ الْحَنَفِيَّةِ وَبَعْضُ الْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ التَّلَفُّظَ بِالنِّيَّةِ مَكْرُوهٌ وَقَال الْمَالِكِيَّةُ بِجَوَازِ التَّلَفُّظِ بِالنِّيَّةِ فِي الْعِبَادَاتِ، وَالأْوْلَى تَرْكُهُ، إِلاَّ الْمُوَسْوَسَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ التَّلَفُّظُ لِيَذْهَبَ عَنْهُ اللَّبْسُ

Kemudian para ahli fikih berbeda pendapat tentang hukum taklifi melafalkan niat. Pendapat yang kuat dalam mazhab Hanafi, Syafi’i dan Hanbali menyatakan bahwa melafalkan niat dalam ibadah adalah sunnah agar antara lisan dan hati terjadi kesesuaian. Sebagian ulama Hanafi dan Hanbali berpendapat, melafalkan niat hukumnya makruh. Mazhab Maliki berpendapat hukum mengucapkan niat adalah jawaz (boleh) dalam ibadah. Tetapi meninggalkannya leih utama kecuali untuk orang yang terkena waswas, sunnah baginya melafalkan niat untuk menghilangkan keraguan. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 42, hlm. 67).

Berdasarkan keterangan di atas, dapat dipahami bahwa melafalkan niat merupakan perkara yang diperselisihkan hukumnya. Dari keempat mazhab, tidak ada yang menghukumi haram melafalkan niat. Hanya ada fatwa dari sebagian ulama Hanabilah yang menyatakan makruh dan ulama Malikiyah yang menghukumi khilaful aula. Tetapi semua sepakat, bagi orang yang mengalami waswas, disunnahkan melafalkan niat.

Demikian penjelasan singkat tentang hukum melafalkan niat.  Semoga bermanfaat. (M. Khoirul Huda).