Hukum Makar Menurut Islam

Kamis, 8 November 2018 diskusi 2828 klik
Juriyanto Teks:Juriyanto
Faza Grafis:Faza

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makar diartikan sebagai perbuatan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Pengertian ini di dalam Islam disebut dengan bughat atau pemberontak. Syekh Mustafa Dib Al-Bugha dalam Al-Tadzhib Fi Adillah Matn Ghayah Wa Taqrib mengatakan, “Bughat adalah sekelompok umat Islam yang keluar dari ketaatan kepada pemimpin yang sah yang diangkat oleh kelompok mayoritas umat Islam. Mereka menolak menunaikan kewajibannya. Mereka memerangi umat Islam berdasar suatu pemahaman hukum yang bertentangan dengan yang disepakati umat Islam. Mereka mengklaim kebenaran dan kekuasaan adalah milik mereka.”

Melalui pengertian ini, setiap upaya untuk menggulingkan kepala negara yang sah dengan cara yang tidak sah, baik didasari motif agama atau mencari dunia, maka disebut bughat atau pemberontak. Ulama sepakat bahwa bughat hukumnya haram dan termasuk perbuatan jarimah atau kriminal yang wajib diperangi hingga para pemberontak tersebut bertaubat dan kembali taat kepada imam atau kepala negara.

Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Syaikh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Al-Ghurarul Bahiyah berikut;

وَأَجْمَعَتْ الصَّحَابَةُ عَلَى قِتَالِهِمْ قَالَ فِي الرَّوْضَةِ:، وَقِتَالُهُمْ وَاجِبٌ، فَإِنْ رَجَعُوا إلَى الطَّاعَةِ قُبِلَتْ تَوْبَتُهُمْ، وَتُرِكَ قِتَالُهُمْ

“Para sahabat sepakat untuk memerangi para pemberontak. Imam Nawawi dalam kitab Al-Raudhah berkata, ‘Memerangi mereka adalah wajib. Jika mereka kembali taat, maka pertaubatan mereka diterima dan memerangi mereka dihentikan.’”

Salah satu dalil yang dijadikan dasar oleh para ulama terkait keharaman bughat dan kewajiban memerangi para pemberontak adalah firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 9 berikut;

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu memberontak, maka perangilah golongan yang memberontak itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah.” (Qs. Al-Hujurat: 9)

Ketika menafsirkan ayat ini, Syaikh Zakariya Al-Anshari (w. 926 H) mengatakan, ‘Dalam ayat ini memang tidak disebut “memberontak kepada imam” secara jelas, akan tetapi ayat tersebut telah mencakupnya berdasarkan keumuman ayatnya atau karena ayat tersebut menuntutnya. Sebab jika perang dituntut karena pemberontakan satu golongan atas golongan lain, maka pemberontakan satu golongan atas imam atau kepala negara tentu lebih dituntut lagi.’

Selain itu, terdapat beberapa hadis yang melarang keras aksi pemberontakan kepada kepala negara dengan cara tidak mentaatinya, atau keluar dari barisan dan kesepakatan kaum muslimin. Di antaranya adalah hadis yang bersumber dari Abu Hurairah berikut;

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa yang keluar dari ketaatan (kepada imam atau kepada negara) dan memisahkan diri dari jamaah kemudian mati, maka matinya adalah mati jahiliyah.” (HR. Muslim).

Melalui keterangan di atas dapat diketahui bahwa makar atau memberontak kepada kepala negara yang sah hukumnya haram dan maksiat, bahkan termasuk perbuatan kriminal yang wajib diperangi. Jika mati dalam keadaan memberontak kepada kepala negara, maka matinya disebut mati jahiliyah atau mati dalam keadaan maksiat. (Jurianto)