Hukum Jabat Tangan Tanpa Syahwat Menurut Fatwa Syekh Al-Qardhawi dan Syekh Ali Jum’ah

Senin, 15 Juli 2019 diskusi 696 klik
Faza Grafis:Faza

Salaman dengan lawan jenis dimana keduanya berusia muda merupakan persoalan yang ramai dibicarakan para ahli hukum Islam klasik. Pendapat mereka terangkum dalam dua aliran utama.

Pertama, pendapat ulama yang mengharamkan secara mutlak. Baik dengan disertai syahwat maupun tidak. Pendapat ini didukung mayoritas ahli fikih dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Kedua, pendapat yang mengharamkan hanya jika disertai adanya unsur syahwat. Pendapat ini berasal dari para ulama mazhab Hanafi. 

Ensiklopedia Fikih Kuwait menulis,

وَأَمَّا مُصَافَحَةُ الرَّجُل لِلْمَرْأَةِ الأْجْنَبِيَّةِ الشَّابَّةِ فَقَدْ ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ فِي الرِّوَايَةِ الْمُخْتَارَةِ، وَابْنُ تَيْمِيَّةَ إِلَى تَحْرِيمِهَا، وَقَيَّدَ الْحَنَفِيَّةُ التَّحْرِيمَ بِأَنْ تَكُونَ الشَّابَّةُ مُشْتَهَاةً،

Adapun jabat tangan antara lelaki dan perempuan non mahram yang masih muda, para ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali –dalam riwayat terkuat, dan Ibnu Taimiyyah, menilai keharamannya. Para ulama Hanafiyyah membatasi hukum haram hanya jika perempuan muda tersebut dapat membangunkan syahwat. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, jilid 37, hlm. 359).

Berangkat dari sini, para ulama kontemporer memahami bahwa memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hukum bersalaman antara lelaki dan perempuan muda. Syekh Ali Jum’ah, dalam fatwa yang dipublikasikan dalam website Darul Ifta’ Al-Mishriyyah (http://www.dar-alifta.org/ar/ViewFatwa.aspx?ID=12526&LangID=1&MuftiType=0), mengatakan,

مصافحة الرجل للمرأة الأجنبية محل خلاف في الفقه الإسلامي؛ فيرى جمهور العلماء حرمة ذلك، إلا أن الحنفية والحنابلة أجازوا مصافحة العجوز التي لا تُشتَهَى؛ لأمن الفتنة، ومن أدلة الجمهور على التحريم: قول السيدة عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها: "مَا مَسَّتْ يد رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وآله وسلم يد امْرَأَةٍ قَطُّ" متفق عليه، وحديث معقل بن يسار رضي الله عنه أن رسـول الله صلى الله عليه وآله وسلم قـال: «لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ» أخرجه الروياني في "مسنده" والطبراني في "المعجم الكبير".

Jabat tangan lelaki dengan perempuan non mahram adalah permasalahan khilafiyah dalam fiqih Islam. Mayoritas ulama menilainya haram. Kecuali para ulama Hanbali dan Hanafi yang membolehkan jabat tangan dengan perempuan tua yang sudah tidak disyahwati. Alasannya karena jauh dari fitnah. Di antara dalil mayoritas ulama untuk mengharamkan adalah pernyataan Sayyidah Aisyah, Ummul Mukminin, radhiyallu anha, “Tangan Rasulullah SAW tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan pun.” (Muttafaq Alaih). Dan hadis Ma’qil bin Yasar, radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ditusuknya kepala seorang lelaki dengan paku besi lebih baik baginya dibanding ia menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” Hadis ini diriwayatkan Al-Rauyani dalam Musnad-nya dan Al-Thabarani dalam Al-Mu’Jam Al-Kabir.

Tetepi, bagaimana pun, ada pula ulama yang membolehkan. Syekh Ali Jum’ah mengatakan,

بينما يرى جماعة من العلماء جواز ذلك؛ لما ثبت أن عمر بن الخطاب رضي الله تعالى عنه صافح النساء لمَّا امتنع النبي صلى الله عليه وآله وسلم عن مصافحتهن عند مبايعتهن له، فيكون الامتناع عن المصافحة من خصائص النبي صلى الله عليه وآله وسلم، وأن أبا بكر الصديق رضي الله تعالى عنه صافح عجوزًا في خلافته، ولمَا جاء في "البخاري" عن النبي صلى الله عليه وآله وسلم أنه كان يجعل أم حـرام رضي الله تعالى عنها تفلي رأسه الشريف، ولمَا أخرجه البخاري أن أبا موسى الأشعري رضي الله تعالى عنه جعل امرأة من الأشعريين تفلي رأسه وهو محرم في الحج.

Di sisi lain, ada sekelompok ulama yang membolehkan jabat tangan antara lelaki dan perempuan. Hal ini karena ada sebuah riwayat bahwa Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu anhu menjabat tangan para perempuan, ketika Rasulullah SAW menolak menjabat tangan ketika mereka bersumpah setia kepada beliau. Karenanya, larangan berjabat tangan merupakan kekhususan Nabi SAW. Abu Bakar radhiyallahu anhu pernah menjabat tangan seorang perempuan tua pada masa kekhalifahannya. Dalam Shahih Al-Bukhari, terdapat riwayat bahwa Nabi SAW meminta Ummu Haram radhiyallahu ‘anha agar mencari kutu kepala Nabi SAW. Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menyuruh seorang perempuan suku Asy’ari untuk mencari kutu kepalanya saat beliau sedang ihram haji.

Terkait dalil yang digunakan mayoritas ulama yang mengharamkan, Syekh Ali Jum’ah mengatakan,

وأجابوا عما استدل به الجمهور: بأن حديث معقل بن يسار رضي الله عنه حديث ضعيف؛ لضعف راويه شداد بن سعيد، وقد تفرد بهذا اللفظ مرفوعًا، ومثله يحتمل تفرده لو لم يُخالَف، وقد خالفه بشير بن عقبة -وهو ثقة من رجال "الصحيحين"- فأخرجه ابن أبي شيبة في "المصنف" من طريق بشير بن عقبة، عن أبي العلاء، عن معقل رضي الله عنه موقوفًا عليه من قوله بلفظ: "لَأَنْ يَعْمِدَ أَحَدُكُمْ إِلَى مِخْيَطٍ فَيَغْرِزُ بِهِ فِي رَأْسِي، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ تَغْسِلَ رَأْسِيَ امْرَأَةٌ لَيْسَتْ مِنِّي ذَاتَ مَحْرَمٍ"..

Para ulama yang membolehkan jabat tangan lelaki dan perempuan menjawab dalil yang diajukan mayoritas ulama; bahwa hadis Ma’qil bin Yasar radhiyallahu anhu adalah hadis daif. Alasannya karena kedaifan perawinya yang bernama Syadad bin Sa’id. Syadad meriwayatkan sendirian hadis tersebut secara marfu’ (disandarkan kepada Nabi). Perawi seperti dirinya dicurigai jika meriwayatkan sendirian jika tidak ada yang menyelisihi. Padahal, hadis yang diriwayatkannya menyelesihi hadis yang diriwayatkan Basyir bin Uqbah yang merupakan perawi tsiqah dan salah satu perawi dalam Sahihain. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dalam Mushannafnya dari jalur Basyir bin Uqbah, dari Abul Ala’, dari Ma’qil radhiyallahu anhu, secara mauquf (hanya sampai sahabat Nabi), dari pernyataan Ma’qil sendiri dengan redaksi “Mencari pakunya seorang dari kalian, lalu menusukkannya ke kepalaku, lebih aku cintai daripada jika ada seorang perempuan membasuh kepalaku, dimana ia bukan orang yang punya hubungan mahram.” 

Menyikapi perbedaan pendapat tentang hukum jabat tangan lelaki dan perempuan, Syekh Ali Jumah mengatakan,

وعليه فيمكن لمن ابتلي بشيء من هذا أن يقلد مَنْ أجاز ذلك مِن العلماء، والخروج من الخلاف مستحب

Berdasarkan keterangan adanya khilafiyah ini, dimungkinkan bagi orang yang sedang menghadapi situasi sulit, untuk mengikuti pendapat ulama yang membolehkan. Keluar dari khilafiyah merupakan perkara yang dianjurkan.

Pendapat senada dikeluarkan Syekh Yusuf Al-Qardawi dalam buku kecil berjudul Fatawa Mar’ah Muslimah. Ketika menjawab pertanyaan tentang hukum jabat tangan lelaki dan perempuan, Syekh Al-Qardawi menjelaskan poin kesepakatan para ulama. Setidaknya ada dua poin yang disepakati para ulama ulama. Pertama, jabat tangan yang disertai syahawat. Para ulama sepakat bahwa kondisi semacam ini hukumnya diharamkan melakukan jabat tangan. Kedua, jabat tangan dengan perempuan tua atau anak perempuan yang belum sampai usia yang dapat membangkitkan syahwat. Para ulama sepakat kebolehannya dan merupakan bentuk rukhshah (kemurahan syariat).

Syekh Al-Qardawi lalu fokus membahas masalah perempuan yang berusia masih muda tetapi ketika berjabat tangan dengannya tidak ada unsur syahwatnya. Menurut Syekh Al-Qardawi, ada pandangan yang melarang jabat tangan dengan perempuan muda sekalipun tanpa syahwat. Namun, menurutnya lagi, tidak ada dalil kuat (dalil muqni’ manshush) yang mendukung pandangan pengharaman tersebut. Argumen paling kuat adalah saddu dzari’ah (menutup jalan menuju kemaksiatan). Yaitu agar seseorang tidak terjerumus dalam fitnah.

Selain dalil sadd dzari’ah, ada juga riwayat dari Sayyidah Aisyah yang isinya sebenarnya tidak mengandung larangan. Isianya hanya penjelasan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berjabat tangan dengan perempuan.

Hadis lain yang digunakan adalah riwayat Ma’qil bin Yasar tentang ditusuk jarum di kepala lebih baik daripada menyentuh perempuan non mahram. Hadis ini riwayat Al-Thabarani ini, sekalipun secara sanad dinyatakan diisi oleh perawi-perawi terpercaya, tetapi secara matan hadis tidak tegas menyebut jabat tangan. Kata “Menyentuh” dalam hadis menggunakan redaksi “yamussu” yang secara tekstual bisa berarti menyentuh atau bersetubuh. Kata ini menjadi bahan perdebatan sengit di kalangan ahli bahasa Arab dan ahli hukum Islam klasik. Artinya, pengertian menyentuh masih dianggap samar serta tidak tegas merujuk kepada menyentuh saja atau menyentuh yang menjurus ke arah aktifitas seksual.

Belum lagi kedua hadis di atas bertentangan dengan hadis lain. Hadis Aisyah yang menginformasikan Nabi SAW tidak pernah menyentuh tangan perempuan selain istri-istrinya terbantahkan oleh hadis riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anha.

إِنْ كَانَتِ الأَمَةُ مِنْ إِمَاءِ أَهْلِ المَدِينَةِ، لَتَأْخُذُ بِيَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَنْطَلِقُ بِهِ حَيْثُ شَاءَتْ

Jika ada budak perempuan kota Madinah (membutuhkan bantuan Rasulullah SAW), maka ia akan memegang tangan Rasulullah SAW lalu membawanya pergi (untuk membantu pekerjaan si budak) dimana pun tempat budak itu mau (HR Al-Bukhari).

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga meriwayatkan kejadian lain sebagai berikut:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ - وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ - فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَطْعَمَتْهُ وَجَعَلَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ،

Rasulullah SAW mengunjungi Ummu Haram binti Milhan, lalu Ummu Haram menyuguhkan makanan kepada Rasulullah. Ummu Haram adalah istri Ubadah bin Shamit. Rasulullah SAW menemui Ummu Haramm, lalu ia memberinya makan. Ummu Haram mencari kutu di kepala Rasulullah SAW. (HR. Al-Bukhari)

Berdasarkan dua hadis ini, tentunya Rasulullah SAW menyentuh kulit seorang perempuan non-mahramnya. Kedua riwayat ini membantah riwayat Sayyidah Aisyah dan menunjukkan bahwa riwayat Ma’qil bin Yasar mengalami kesalahan periwayatan.

Berdasarkan uraian di atas, dalil yang digunakan para pendukung pendapat yang menyatakan keharaman jabat tangan lelaki dan perempuan non-mahram tanpa ada unsur syahwat ini memiliki sejumlah kelemahan. Karenanya, sebagian ulama membolehkan jabat tangan dengan non mahram tanpa syahwat.  

Sekalipun demikian, Syekh Al-Qardawi memberi catatan. Ia menulis,

الثاني: ينبغي الاقتصار في المصافحة على موضع الحاجة، مثل ما جاء في السؤال كالأقارب والأصهار الذين بينهم خلطة وصلة قوية، ولا يحسن التوسع في ذلك، سدًا للذريعة، وبعدًا عن الشبهة، وأخذًا بالأحوط، واقتداء بالنبي صلى الله عليه وسلم الذي لم يثبت عنه أنه صافح امرأة أجنبية قط وأفضل للمسلم المتدين، والمسلمة المتدينة ألا يبدأ أحدهما بالمصافحة، ولكن إذا صوفح صافح.

Kedua, hendaknya jabat tangan dengan non mahram dibatasi pada saat ada kebutuhan mendesak. Seperti ketika bertemu perempuan yang masih punya hubungan kerabat dan mertua yang punya ikatan yang dekat. Tidak baik membolehkan jabat tangan secara bebas sebagai bentuk sadd dzari’ah, menjauhi syubhat dan mengambil pendapat yang penuh kehati-hatian, serta meneladani Nabi SAW. yan tidak terang benar bahwa beliau pernah menjabat tangan seorang perempuan non mahram sama sekali. Yang lebih utama bagi Muslim dan Muslimah yang taat adalah tidak memulai jabat tangan. Tetapi ketika diajak jabat tangan, ia membalasnya. (Risalah Fatawa Mar’ah Muslim, hlm. 64). 

Demikian pendapat dua ulama kontemporer tentang hukum jabat tangan dengan perempuan non mahram ketika tidak ada syahwat yang menyertai. Sebagai masalah khilafiyah, hal ini hendaknya menjadi sarana toleransi antara sesama Muslim.