Hukum Ilzaq, Menempelkan Kaki Saat Meluruskan Shaf


Kaum Muslimin Indonesia dikagetkan dengan cara shalat berjamaah yang agak unik. Dimana, ketika berada dalam barisan shalat (shaf), sebagian orang menempelkan kakinya dengan kaki teman di sampingnya.

Dalam bahasa Arab, fenomena ini disebut ilzaq atau ilshaq. Yaitu mempertemukan kaki-kaki, bahkan lutut dan bahu, untuk menjaga lurusnya shaf jamaah shalat.

Dalam diskusi hukum Islam, ilzaq ternyata merupakan satu fenomena yang baru ramai dibahas di era modern. Ramainya pembahasan masalah ini, bermula dari penndapat Syekh Al-Albani yang seakan menghukumi wajib ilzaq.

Dengan demikian, bisa dikatakan yang pertama kali mempopulerkan adalah Syeikh Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H).

Dalam kitabnya, Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77, dia menuliskan :

وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه

Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, dengkul, bahu) ini, hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu. (Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77)

Pernyataan ini merupakan komentar Syekh Al-Albani setelah membahas hadis Anas bin Malik berikut.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shallaAllah alaih wasallam: ”Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan kakinya dengan kaki temannya. (HR. Al-Bukhari)

Kemudian muncul bantahan dari Bakr Abu Zaid (w. 1429 H). Ia adalah salah seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi.

Dia menulis kitab yang berjudul La Jadida fi Ahkam as-Shalat (Tidak Ada Yang Baru Dalam Hukum Shalat), hal. 13.

Dalam tulisannya Bakr Abu Zaid berpendapat :

وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.

Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang susah dilakukan. (La Jadida fi Ahkam as-Shalat, hal. 13).

Bakr Abu Zaid melanjutkan:

فهذا فَهْم الصحابي – رضي الله عنه – في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق

Inilah yang difahami shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela. Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan. (La Jadida fi Ahkam as-Shalat, hal. 13).

Jadi, menurut Bakr Abu Zaid (w. 1429 H) hadits itu bukan berarti dipahami harus benar-benar menempelkan mata-mata kaki, dengkul dan bahu tapi hanya meluruskan Shaf.

Lalu bagaimana dengan pandangan para ahli hadis klasik?

Ternyata, para ulama ahli hadis klasik lebih sesuai dengan pendapat kedua ini.

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H.) termasuk ulama besar yang menulis kitab penjelasan dari Kitab Shahih Bukhari.

Ibnu Rajab menuliskan:

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام

Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282).

Nampaknya Ibnu Rajab lebih memandang bahwa maksud hadits Anas adalah meluruskan barisan, yaitu dengan lurusnya bahu dan telapak kaki. Pendapat ini senada dengan pendapat Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Ibnu Hajar (w. 852 H) menuliskan:

الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ

Maksud hadits ”ilzaq” adalah menekankan dalam meluruskan shaf dan menutup celah. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Memang di sini beliau tidak secara spesifik menjelaskan harus menempelkan mata kaki, dengkul dan bahu. Karena maksud haditsnya adalah untuk menekankan dalam meluruskan shaf dan menutup celahnya. 

Al-Khatthabi (w. 388 H.) menyatakan bahwa ketika meluruskan barisan (shaf), tidak perlu menempelkan pundak dan lainnya dengan pundak orang di sampingnya. Bahkan dianjurkan melenturkannya dan memberi kelonggaran.

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خياركم ألينكم مناكب في الصلاة. قلت معنى لين المنكب لزوم السكينة في الصلاة والطمأنينة فيها لا يلتفت ولا يُحاك بمنكبه منكب صاحبه. وقد يكون فيه وجه آخر وهو أن لا يمتنع على من يريد الدخول بين الصفوف ليسد الخلل أو لضيق المكان، بل يمكنه من ذلك ولا يدفعه بمنكبه لتتراص الصفوف وتتكاتف الجموع

Dari Ibnu Abbas, yang berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling baik di antara kalian adalah yang paling lentur pundaknya di dalam shalat.” Saya (Al-Khatthabi) berkata, “Arti lenturnya pundak adalah tetap tenang dan tumakninah dalam shalat. Tidak menoleh kanan-kiri. Tidak menempelkan pundaknya ke pundak kawannya. Ada arti lain, yaitu tidak menghalangi seseorang yang ingin masuk ke dalam barisan untuk menutup celah atau karena sempitnya tempat. Ia bahkan harus memberi ruang kepada temannya. Tidak menolaknya dengan pundaknya. Hal ini agar barisan menjadi lurus.” (Ma’alim Al-Sunan, jilid 1, hlm. 184).

Bisa disimpulkan, bahwa terdapat dua pendapat dalam masalah ilzaq. Pertama, pendapat yang mewajibkan. Pendapat ini dirintis oleh Syekh Al-Albani dan diikuti murid-muridnya. Kedua, pendapat yang tidak mewajibkan. Hal ini sebagaimana disampaikan Bakr Abu Zaid. Pendapat ini lebih sesuai dengan pendapat para ahli hadis klasik seperti Al-Khatthabi, Ibnu Rajab dan Ibnu Hajar.