Empat Jenis Ayat al-Qur’an Menurut Ibnu Abbas

Senin, 26 November 2018 diskusi 480 klik
Hilmy Firdausy Teks:Hilmy Firdausy
Faza Grafis:Faza

Kita sepakat bahwasanya al-Qur’an merupakan kitab suci yang berisi banyak sekali ajaran dan hal lain di dalamnya. Al-Qur’an adalah syifa’ sekaligus huda yang menjadi pegangan bagi umat Islam sedunia. Namun tidak semua ayat ternyata mudah dipahami dan ditafsirkan. Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat yang pakar tafsir, secara umum, ayat al-Qur’an terbagi ke dalam empat macam sesuai tingkat kesulitan penafsirannya;

1. Ayat yang tafsirannya pasti diketahui setiap orang

Yang dimaksud dengan pasti diketahui semua orang adalah semua orang yang membaca ayat itu dipastikan akan memiliki satu pemahaman. Seperti misalnya ayat al-Ikhlas, “Qul Huwa-Llahu Ahad…”

2. Ayat yang tafsirannya hanya diketahui mereka yang memiliki pengetahuan Bahasa Arab yang cukup

Tidak semua orang mampu memahami dan menafsirkan ayat-ayat yang membutuhkan pengetahuan tentang bahasa Arab. Mereka yang memiliki pengetahuan itulah yang hanya dapat mengetahui maksud dari ayat. Semisal, ayat yang berbunyi, “hiya ‘ashoya atawakka’u ‘alayha wa ahussyu biha ‘ala ghanami”

3. Ayat yang tafsirannya hanya diketauhi ulama yang mendalam ilmunya (al-rasikhun fil ilmi)

Yang dimaksud dengan ulama yang mendalam ilmunya bukan hanya dia mumpuni di berbagai bidang keilmuan yang membantunya memahami al-Qur’an. ulama yang mendalam ilmunya adalah ulama yang juga memiliki sifat tawadhu’, zuhud, berkuasa atas hawa nafsunya dan selalu menjaga ketakwaannya kepada Allah SWT. Banyak sekali ayat al-Qur’an yang hanya bisa ditangkap oleh orang-orang seperti ini.

4. Ayat yang tafsirannya hanya diketahui oleh Allah SWT semata

Di luar itu semua, ada ayat al-Qur’an yang maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT. Seperti ayat-ayat permulaan surat, “alif lam mim”, “shaad”, “yasiin” dll.

Namun sejatinya, apa yang mampu ditangkap oleh para ulama mufassir dari ayat al-Qur’an tidak menjamin itu yang dimaksud oleh Allah SWT. Maka seyogyanya kita tidak mengangungkan satu model tafsir tertentu dan menyalahkan tafsiran ulama yang lain.