Darah Tidak Najis? Begini Penjelasan Para Ulama


Darah Tidak Najis? Begini Penjelasan Para Ulama

Seorang pendakwah tiba-tiba viral karena menyatakan bahwa darah manusia bukan benda yang najis. Para santri yang biasa mengaji hukum-hukum Islam pun bertanya-tanya, adakah pendapat ulama ahli hukum Islam yang menyatakan bahwa darah tidak najis?

Sepanjang empat belas abad ini, ulama dari empat mazhab fiqh dalam Islam: Hanafiyah, Malikiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah, bahkan Mazhab Zhahiri sepakat bahwa darah manusia itu najis. Berikut adalah kutipan pernyataan para ulama dari berbagai mazhab.

Mazhab Maliki

Ibnu Abdil-Bar (w. 463 H) mewakili pendapat kalangan ulama mazhab Al-Malikiyah berpendapat dalam kitab At-Tamhid bahwa darah itu najis.

هذا إجماعٌ من المسلمين أنَّ الدَّم المسفوحَ رِجسٌ نَجِسٌ

Ijma' umat Islam bahwa Darah yg mengalir adalah najis. (Ibnu Abdil-Bar, At-Tamhid, jilid 22 hal. 230)

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran

الرابعة عشرة- قوله تعالى:" والدم" اتفق العلماء على أن الدم حرام نجس لا يؤكل ولا ينتفع به

Point ke-14 atas firman Allah : (Dan Darah) seluruh ulama sepakat bahwa darah itu haram dan najis. Tidak boleh dimakan dan tidak boleh dimanfaatkan. (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, jilid 2 hal. 221)

Mazhab Syafi'i

Imam Nawawi (w. 676 H) menuliskan dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab bahwa darah itu najis.

دَّلائل على نجاسةِ الدَّم متظاهرة ولا أعلم فيه خِلافًا عن أحدٍ من المسلمين

Ini adalah dalil-dalil tentang kenajisan darah sangat jelas. Tidak perbedaan di kalangan ulama muslimin tentang kenajisannya. (Imam Nawawi, Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, hal. 557)

Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 853 H) menuliskan dalam kitab Fathul Bari yang merupakan penjelasan dari kitab Shahih Bukhari, bahwa seluruh ulama telah sepakat atas najisnya darah.

الدَّمُ نجس اتِّفاقًا

Darah itu najis secara konsensus (ulama) .(Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, juz 1 hal. 354)

Mazhab Hambali

Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) bahwa darah itu najis, sebagaimana tertuang dalam kitab Umdatul-Fiqih.

سُئل الإمام أحمد: القيح والدَّم عندك سواء؟ فقال: الدَّمُ لم يختلِفِ النَّاس فيه والقَيحُ قد اختَلف النَّاس فيه

Imam Ahmad Bin Hambal ditanya tentang perbedaan kenajisan darah dan nanah. Beliau menjawab: Kenajisan darah tidak diperselisihkan ulama. Sedang kenajisan nanah masih ada khilaf di kalangan ulama.

Ibnu Taimiyah (w. 728 H) juga berfatwa bahwa darah itu najis dan melarang kita menuliskan ayat Al-Quran dengan tinta dari darah. Hal itu bisa dikonfirmasi di dalam kitabnya, Al-Mustadrak ‘Ala Majmu’ Al-Fatawa dan berikut ini petikan fatwanya.

ولا يجوز كتابتها ـ يعني الرقى ـ بدم، فإن الدم نجس، فلا يجوز أن يكتب به كلام الله

Tidak boleh menuliskannya dengan darah karena darah itu najis. Sehingga tidak boleh menulis firman Allah dengan tinta darah.

Mazhab Zhahiri

Ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitab Maratibul-Ijma' menyubutkan bahwa para ulama telah bersepakat atas najisnya darah.

اتَّفقوا على أنَّ الكثيرَ مِنَ الدَّم- أيَّ دمٍ كان، حاشَا دَم السَّمَكِ وما لا يَسيل دمُه- نجسٌ

Para ulama telah sepakat bahwa darah yang banyak itu najis, darah apa saja, kecuali darah ikan dan darah binatang yang tidak memiliki darah yang mengalir. (Ibnu Hazm, Maratibul-Ijma', jilid 1 hal. 19)

Dalil yang digunakan para ulama dari seluruh mazhab tersebut di antaranya adalah Hadits Nabi yang menyebutkan bahwa pakaian yang terkena darah dan benda-benda najis lainnya harus dicuci.

إِنَّمَا يُغسَل الثَّوبُ مِنَ المَنِيِّ وَالبَول وَالدَّمِ

Dari Ammar bin Yasir radhiyallahuanhu berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya pakaian itu harus dicuci bila terkena mani, air kencing dan darah”. (HR. Ad-Daruquthni)

Dalam riwayat lain dikatakan,

جَاءَتِ امرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَت : أَرَأَيتَ إِحدَانَا تَحِيضُ فِي الثَّوبِ كَيفَ تَصنَعُ ؟ قَال : " تَحُتُّهُ ثُمَّ تَقرُصُهُ بِالمَاءِ وَتَنضَحُهُ وَتُصَلِّي فِيهِ

Dari Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahuanha berkata bahwa ada seorang wanita mendatangi Nabi SAW dan bertanya,”Aku mendapati pakaian salah seorang kami terkena darah haidh, apa yang harus dia lakukan?”. Rasulullah SAW menjawab,” ia kupas dan lepaskan darah itu lalu ia kerok dengan ujung jari dan kuku sambil dibilas air kemudian ia cuci kemudian ia shalat dengannya”. (HR. Bukhari)

Namun demikian, memang pada waktu belakangan, muncul sejumlah tokoh yang menilai bahwa darah adalah suci. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Ustadz Ahmad Sarwat. Halaman FB-nya, dia menulis,

“Namun di akhir zaman, ada yang bilang bahwa darah manusia itu tidak najis. Di antara yang berpendapat semacam itu misalnya Asy-Syaukani (w. 1.250 H), Shidiq Hasan Khan (w. 1.307 H), Syaikh Albani (w. 1.420 H) dan Syeikh ‘Utsaimin (w. 1.420 H).”

Demikian pendapat para ulama tentang status kenajisan darah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.