Dalil Larangan Wisata Kuliner


Belakangan muncul hadis-hadis yang menurut sebagian kalangan merupakan larangan  melakukan perjalanan kuliner. Ini didasarkan kepada hadis riwayat Abu Umamah dari Rasulullah Saw sebagaimana berikut:

عَنْ حَبِيبِ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم سَيَكُونُ رِجَالٌ مِنْ أُمَّتِي يَأْكُلُونَ أَلْوَانَ الطَّعَامِ وَيَشْرَبُونَ أَلْوَانَ الشَّرَابِ وَيُلْبِسُونَ أَلْوَانَ الثِّيَابِ وَيَتَشَدَّقُونَ فِي الْكَلامِ فَأُولَئِكَ شِرَارُ أُمَّتِي

Dari Habib bin ‘Ubaidillah dari Umamah, Rasulullah Saw bersabda: “Akan ada sekelompok orang dari umatku yang memakan berbagai macam makanan, minum berbagai macam minuman dan memakai beraneka ragam pakaian. Mereka berbicara tanpa batasan, mereka itulah seburuk-buruk umatku.”

Hadis di atas diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis seperti al-Mu’jam al-Ausath, al-Mu’jam al-Kabir, Musnad al-Syamin, dan lain sebagainya. Ada banyak redaksi yang berbeda dengan makna yang sama berkaitan dengan hadis di atas. Secara kualitas, al-Mundziri menganggap Abu Umamah adalah orang yang lemah, demikian pula dengan al-‘Iraqi yang menyebut sanad hadis di atas tergolong lemah. Al-Haitsami menambahkan bahwa al-Thabarani meriwayatkan hadis di atas melalui dua jalur. Jalur pertama melalui melalui perawi bernama Jami’ bin Tsaub yang termasuk perawi Matruk dan jalur kedua diriwayatkan melalui Abu Bakar bin Abi Maryam yang juga merupakan perawi yang Mukhtalith.

Menurut ulama, hadis di atas tidak berarti menunjukkan larangan terhadap wisata kuliner. Al-Minawi (w. 1031 H) dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan hadis di atas dalam beberapa poin.

  1. Hadis di atas lemah sebagaimana keterangan sebelumnya;
  2. Hadis di atas merupakan mu’jizat Nabi yang mengetahui hal-hal ghaib, masa depan;
  3. Baik pakaian, makanan dan minuman yang dimaksud adalah yang berlebih-lebihan yang bertujuan untuk menyombongkan diri dan  bertujuan untuk memeroleh pujian dari manusia.
  4. Orang-orang semacam itu adalah seburuk-buruk umat Nabi Muhammad Saw, mereka akan sangat sukar sekali menerima nasehat-nasehat agama.

Dalam keterangan lain, al-Shan’ani (w. 1182 H) dalam Subul al-Salam menyebutkan bahwa Lukman pernah bercerita kepada anaknya:

“Wahai anakku, jika perut manusia penuh diisi, maka pikirannya akan tidur, hikmah tidak akan masuk dalam dirinya, anggota tubuhnya akan malas untuk beribadah. Namun jika perut manusia tidak terisi, maka akan banyak keutamaan yang akan dia peroleh, seperti hatinya akan jernih….”

Demikianlah beberapa pandangan ulama  tentang hadis larangan wisata kuliner. Dapat disimpulkan bahwa hadis di atas tidak sama sekali melarang orang-orang yang berwisata kuliner ketika itu dilakukan dengan tujuan baik dan dalam batas-batas yang wajar.

Wallahu a’lam.