Belajar Toleransi dari Gus Dur

Senin, 10 Desember 2018 diskusi 275 klik
Faza Grafis:Faza

KH. Abdurrahman Wahid atau yang biasa yang dikenal dengan Gus Dur adalah sosok ulama atau tokoh agama, pemikir Islam kontemporer dan tokoh bangsa yang sangat toleran. Sepanjang hidupnya, beliau adalah sosok yang selalu menyebarkan dan mengajarkan nilai-nilai toleransi pada masyarakat Indonesia.

Toleransi sendiri merupakan nilai atau tradisi penting yang mampu menjaga masyarakat Indonesia yang majemuk dan multi kultur. Tanpa toleransi, masyarakat terperosok ke dalam kubangan konflik yang desduktrif, saling bermusuhan, penuh arogansi, dan situasi yang tidak stabil. Berkat toleransi, sebuah perbedaan menjadi sebuah kekuatan dan bisa mentransformasikan sebuah keragaman menjadi keharmonisan. Melalui toleransi, sebuah masyarakat yang plural akan bergerak maju, dinamis tanpa permusuhan.

Toleransi sejatinya adalah ajaran semua agama dan semua budaya. Namun Gus Dur mengajarkan model toleransi yang berbeda dengan tokoh-tokoh agama pada umumnya. Kebanyakan orang mengajarkan dan membudayakan toleransi, sebatas pada hidup berdampingan secara damai. Yaitu hidup bersama dalam suasana saling menghormati dan menghargai.

Namun, apa yang dilakukan oleh Gus Dur dalam mengajarkan toleransi, lebih maju dan progresif. Dalam pandangan Gus Dur, pluralisme masyarakat tidak terletak pada pola hidup berdampingan dengan damai, karena hal itu masih menyimpan potensi timbulnya kesalahpahaman di antara kelompok masyarakat.

Bagi Gus Dur, pluralisme berarti adanya kesadaran untuk saling mengenal dan berdialog secara tulus. Sehingga antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, bisa saling menerima dan memberi. Toleransi yang diajarkan Gus Dur bukan hanya sekedar menghormati dan menghargai keyakinan atau pendirian orang lain dari agama yang berbeda. Tetapi, disertai dengan adanya sikap untuk bersedia menerima ajaran-ajaran yang bersifat baik dari agama atau peradaban lain. Dalam buku “Intelektual di Tengah Eksklusivisme” Gus Dur pernah menyatakan akan menerima dan menyampaikan sebuah kebenaran yang datang dari manapun, entah itu dari Injil, Bhagawad, atau yang lainnya.

Kesediaan menerima kebenaran agama lain sebagaimana yang diajarkan oleh Gus dur tentu tidak mudah. Apalagi bagi orang-orang yang menganut model keberagamaan salafisme, yang terpaku pada teks tanpa menghiraukan kehidupan manusianya. Adanya kesediaan untuk menerima kebenaran dari agama lain merupakan sebuah penerimaan bahwa memang ada kebenaran di luar agama yang dianut.

Level beragama seperti ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah benar-benar menghayati dan mengamalkan agama secara tulus, rendah hati, dan penuh kasih sayang. Toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur merupakan manifestasi dari pemikiran yang sangat mendalam tentang nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Semangat toleransi lahir untuk mewujudkan manusia yang mampu melihat kebaikan dan kebenaran dari agama atau kelompok yang berbeda dari dirinya sendiri. Bukan untuk menihilkan kebenaran agama yang dianut, tetapi untuk mematangkan, mendewasakan pemikiran dan perilaku beragama di tengah masyarakat yang beraneka ragam.  Konsep toleransi yang diajarkan oleh Gus Dur dengan demikian merupakan penawar bagi model keberagamaan yang merasa paling benar sendiri dan suka menyalahkan mereka yang berbeda.

Gus Dur telah merintis dan mewariskan kepada kita semua bagaimana cara bersikap toleran dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari. Gus Dur telah menjadi jembatan berbagai kelompok keagamaan dan kebudayaan, sehingga komunikasi antar umat beragama dan kelompok budaya selama ini terjalin dengan sangat baik dan penuh keramahan. (Nur Hasan)