Beberapa Istilah Berbeda Untuk Perbuatan Sunah

Jumat, 24 Januari 2020 diskusi 158 klik
Faza Grafis:Faza

Sunah dalam terminologi fikih adalah sesuatu yang diberikan pahala bagi pelakunya tetapi orang yang meninggalkannya tidak diberikan dosa. Artinya ia sama seperti wajib dalam hal perbuatan yang dicintai oleh Allah tetapi dari sisi tingkatan tuntutan pekerjaannya, ia setingkat lebih rendah karena tidak adanya celaan dan dosa bagi orang yang meninggalkannya.

Ketentuan hukum seperti ini memiliki beberapa padanan istilah yang berbed-beda dan dan sama-sama dipergunakan dalam kitab-kitab para ulama. Istilah-istilah tersebut adalah sunnah, mandub, mustahab dan tathawwu’.

Al-Zarkasyi dalam kitab Tasynīf al-Masāmi’ Syarh Jam’u al-Jawāmi’ menjelaskan bahwa masing-masing istilah tersebut bermakna sama, dan tidak ada perbedaan apapun baik dalam sisi atau perincian tertentu. Dan ini juga merupakan pendapat yang dipegang oleh mainstream para ahli fikih dan ushul fikih.

Namun ada sebagian ulama yang mencoba memberikan perbedaan untuk masing-masing istilah, di antaranya adalah al-Qadhi Husain. Beliau adalah Husain Ibn Ahmad al-Marwāzi, salah seorang ulama besar dalam mazhab Syafi’i. Beliau juga dihitung sebagai Ashabul wujuh dalam mazhab yaitu ulama yang menyatakan kesimpulan hukum dengan berlandaskan pada metode mazhab Syafi’i, meski pun pendapat beliau dalam posisi tersebut tidak banyak dan tidak terlalu diperhitungkan oleh para ulama ahli tarjih mazhab sesudah beliau. Beliau juga merupakan murid dari salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i yaitu al-Qaffal yang juga sama-sama memiliki gelar al-Marwazi. Di antara murid beliau adalah Imam Haramain.

Al-Qadhi Husain mencoba memberikan perbedaan istilah-istilah tersebut berdasarkan kekuatan hukumnya dan intensitas perbuatan tersebut dilakukan oleh Rasulullah saw. Berdasarkan tertibnya, beliau menjelaskan: sunat adalah perbuatan yang menjadi kebiasaan Rasulullah Saw, artinya Rasulullah hanya meninggalkan perbuatan itu sesekali. Adapun al-Mustahab adalah perbuatan yang hanya dilakukan satu dua kali dan tidak menjadi kebiasaan beliau. Sedangkan istilah Tathawwu’ digunakan untuk sesuatu yang hanya dilandaskan pada riwayat atau khabar dan tidak ada keterangan ia merupakan prkatik dan kebiasaan Rasulullah SAW. Perincian semacam ini juga diikuti oleh penulis kitab al-Tahdzib dan Imam Ghazali dalam kitab al-Ihya’ dimana beliau memberikan tiga tingkatan berbeda untuk ragam perbuatan sunat sesuai dengan durasi dan intensitas perbuatan nabi.

Namun jumhur ulama tetap berpendirian bahwa masing-masing istilah ini bermakna sama dan hanya sebatas perbedaan istilah saja. Bahkan sebagian ulama juga menyatakan perincian yang dibuat oleh Qadhi Husain adalah sesuatu yang rancu sebagaimana disampaikan oleh al-Qadhi Abu Thayyib. Misalnya Rasulullah hanya melakukan haji sekali dalam hidup beliau, dan amalan beliau di dalamnya tetap diistilahkan dengan sunat meskipun tidak mengalami pengulangan lagi setelahnya. Hal ini bertentangan kategorisasi qadhi Husain bahwa sunat bermakna sesuatu yang diulang-ulang dan menjadi kebiasaan Rasulullah Saw.  Kerancuan lain adalah tentang shalat dan khutbah Istisqa’ yang bukan sesuatu praktek yang diulang-ulang dalam intensitas yang banyak, namun para ulama tetap menjelaskan hukumnya sunat mustahab.

Kategorisasi yang dibuat oleh al-Qadhi Husain juga tidak sesuai dengan penggunaan istilah sunat dalam hadis misalnya hadis من سنّ سنة حسنة yang menyebutkan istilah sunnah dengan makna umum. Hal yang sama juga berlaku untuk istilah mandub.

Meski demikian, faktor intensitas dan pembiasaan Rasulullah terhadap sebuah perbuatan adalah sesuatu yang berpengaruh pada kuat dan tidaknya kesunnahan sebuah amalan, namun hampir semua ulama dalam metode penulisan kitab mereka tidak memberikan perbedaan istilah tertentu untuk jenis-jenis amalan dengan durasi perbuatan rasulullah yang berbeda. (Rudy Fachruddin).