Aurat Perempuan di Hadapan Lelaki Bukan Mahram Menurut Ulama Syafi’iyyah.


Bicara tentang aturan agama tentang perempuan menarik perhatian banyak pihak. Pro dan kontra terkait suatu ketentuan menjadi perkara yang banyak dijumpai. Sebagai contoh adalah masalah batas aurat perempuan di hadapan lelaki bukan mahram. Persoalan ini menjadi salah satu persoalan paling serius dan sensitif di kalangan umat Islam.

Ketentuan agama Islam tentang batas aurat perempuan di hadapan lelaki bukan mahram ini banyak diulas oleh para ahli hukum Islam atau disebut fuqaha. Para fuqaha sendiri memiliki beragam pandangan. Ada fuqaha yang menganggap seluruh anggota tubuh perempuan adalah aurat di hadapan lelaki bukan mahram. Ada pula fuqaha yang berpendapat bahwa untuk kondisi di hadapan lelaki bukan mahram, wajah dan kedua telapak tangan bukan termasuk aurat.

Umat Islam di Indonesia pada umumnya menganut mazhab Syafi’i. Dalam arti mengikuti pendapat yang diajarkan oleh para ulama bermazhab Syafi’i. Dalam literatur mazhab Syafi’i yang banyak beredar di Indonesia, biasanya dijelaskan bahwa perempuan memiliki empat macam batas aurat. Syekh Sayyid Abu Bakar Syatha Al-Dimyathi (w. 1310 H.), pengarang kitab I’anatuth Thalibin yang banyak dipakai di pesantren tradisional di Indonesia, mengatakan,

واعلم أن للحرة أربع عورات: فعند الأجانب جميع البدن. وعند المحارم والخلوة ما بين السرة والركبة، وعند النساء الكافرات ما لا يبدو عند المهنة، وفي الصلاة جميع بدنها ما عدا وجهها وكفيها.

Ketahuilah, bahwa perempuan merdeka punya empat macam aurat. Ketika berada di depan lelaki non mahram, yaitu seluruh badannya. Ketika bersama lelaki mahram dan ketika sendirian, yaitu antara pusar dan lutut. Ketika bersama perempuan-perempuan non muslim, yaitu anggota tubuh yang tak biasa tampak ketika beraktifitas. Dan di dalam shalat, yaitu seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. (I’anatuth Thalibin Ala Halli Alfazh Fath Al-Mu’in, jilid 1, hlm. 134)

Bisa dikatakan bila keterangan ini mewakili kitab-kitab ringkas dalam mazhab Syafi’i lainnya. Khususnya yang tersebar di banyak pesantren tradisional di Indonesia. Hampir semua kiai dan santri tradisional pastinya mengerti masalah ini. Berdasarkan keterangan ini, jelas pula bahwa aurat perempuan di hadapan lelaki non mahram adalah seluruh bagian tubuhnya tanpa terkecuali. Jika demikian adanya, lalu apakah para perempuan Muslim wajib menutup wajah dan tangannya di luar shalat? Berdasarkan keterangan kitab yang sama, jawabannya adalah iya. Para perempuan wajib menutup wajahnya.

Syaikh Abu Bakar Syatha dalam kitab yang sama, ketika menjelaskan tentang hukum memandang perempuan bagi laki-laki dalam bab nikah mengatakan,

(قوله: يحرم على الرجل الخ) وذلك لقوله تعالى: (قل للمؤمنين يغضوا من أبصارهم ويحفظوا فروجهم) وقوله صلى الله عليه وسلم -: النظرة سهم مسموم من سهام إبليس المرجوم، لأنها تدعو إلى الفكر، والفكر يدعو إلى الزنا وقوله عليه السلام: العين تزني، والقلب يصدق ذلك أو يكذبه

Haram bagi laki-laki sengaja memandang perempuan. Hal itu karena firman Allah, ‘Katakanlah kepada kaum beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.’ Dan sabda Nabi SAW, ‘Pandangan adalah anak panah beracun Iblis terlaknat.’ Hal itu karena pandangan dapat menjurus ke dalam pikiran. Pikiran dapat menjurus pada perzinaan. Dan sabda Nabi SAW, ‘Mata dapat berzina. Hati dapat membenarkannya atau mendustakannya.’ (I’anatuth Thalibin Ala Halli Alfazh Fath Al-Mu’in, jilid 3, hlm. 300).

Di sini, Syekh Abu Bakar Syatha menegaskan keharaman memandang perempuan bukan mahram secara sengaja berikut dalil-dalil dan argumentasinya. Selanjutnya beliau mengutip perkataan kitab Fathul Jawwad,

قال في فتح الجواد: ولا ينافيه، أي ما حكاه الإمام من اتفاق المسلمين على المنع، ما نقله القاضي عياض عن العلماء أنه لا يجب على المرأة ستر وجهها في طريقها، وإنما ذلك سنة، وعلى الرجال غض البصر لأن منعهن من ذلك ليس لوجوب الستر عليهن، بل لأن فيه مصلحة عامة بسد باب الفتنة نعم، الوجه وجوبه عليها إذا علمت نظر أجنبي إليها أخذا من قولهم يلزمها ستر وجهها عن الذمية، ولأن في بقاء كشفه إعانة على الحرام.

Pengarang berkata dalam kitab Fathul Jawwad, ‘Keterangan yang diriwayatkan oleh al-imam yang menyatakan kesepakatan umat Islam melarang perempuan keluar rumah dengan wajah terbuka tidak bertentangan dengan keterangan yang dinukil Al-Qadhi Iyadh dari para ulama bahwa perempuan tidak wajib menutup wajahnya selama di jalanan. Hal itu hanya kesunnahan dan para lelaki wajib menundukkan pandangan. Alasan kenapa tidak bertentangan adalah karena dalam pelarangan perempuan keluar rumah dengan wajah terbuka bukan karena kewajiban menutup wajah atas mereka. Tetapi karena dalam pelarangan tersebut terdapat maslahat umum dengan menutup pintu fitnah. Benar, wajah wajib ditutup oleh perempuan ketika dia mengetahui ada lelaki memandang kepadanya. Alasannya, karena berdasar pendapat yang mengatakan kewajiban menutup wajahnya dari pandangan mata perempuan non Muslim. Alasan lain, dengan membiarkan membuka wajah, berarti terdapat tolong-menolong untuk perbuatan haram. (I’anatuth Thalibin Ala Halli Alfazh Fath Al-Mu’in, jilid 3, hlm. 300)

Jelas sekali kecenderungan Syekh Abu Bakar Syatha bahwa beliau lebih setuju dengan pendapat yang mengatakan keharusan perempuan menutup wajah. Sekalipun sebenarnya ada perbedaan pendapat tentang apakah wajah perempuan termasuk aurat atau bukan. Penjelasan Syekh Abu Bakar Syatha juga menegaskan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang status wajah perempuan. Al-Qadhi Iyadh menegaskan bahwa para perempuan tidak wajib menutup wajahnya selama berada di jalanan. Ia hanya mengajurkan. Hal ini tidak mengherankan karena memang Al-Qadhi Iyadh merupakan ulama bermazhab Maliki. Dalam mazhab ini, wajah perempuan dinilai bukan termasuk aurat.

Hal ini dapat kita konfirmasi dalam kitab-kitab ulama Malikiyah. Al-Zarqani misalnya, seorang ulama terkemuka bermazhab Maliki, pernah menulis,

(ومع أجنبي غير الوجه والكفين) قول ز إلا لخوف فتنة أو قصد لذة فيحرم أي النظر إليها وهل يجب عليها حينئذ ستر وجهها وهو الذي لابن مرزوق في اغتنام الفرصة قائلًا إنه مشهور المذهب ونقل ح أيضًا الوجوب عن القاضي عبد الوهاب أولًا يجب عليها ذلك وإنما على الرجل غض بصره وهو مقتضى نقل ق عن عياض وفصل الشيخ زروق في شرح الوغليسية بين الجميلة فيجب عليها وغيرها فيستحب

Dan ketika bersama lelaki non mahram aurat perempuan merdeka adalah seluruh wajah kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Pendapat zay, kecuali karena ada kekhawatiran muncul syahwat atau karena ada tujuan mencari kenikmatan, maka haram memandang perempuan. Ketika dalam kondisi ini apakah wajib menutup wajah bagi si perempuan –sebagaimana pendapat Ibnu Marzuq dalam kitab Ightinam Al-Furshah yang mana ia menyebutnya sebagai pendapat mazhab yang masyhur dan ha’ menukil pendapat yang menghukumi wajib dari Al-Qadhi Abdul Wahhab Al-Maliki, atau tidak wajib bagi perempuan menutup wajah, tetapi wajib bagi para lelaki menundukkan pandangannya. Pendapat ini merupakan pendapat yang dinukil qaf dari Iyadh. Syaikh Zaruq dalam kitab Syarah Waghlisiyyah membedakan antara perempuan yang cantik yang wajib baginya menutup wajahnya dan yang tidak cantik yang hanya mustahab menutupnya (Syarah Al-Zarqani Ala Mukhtashar Khalil Wa Hasyiyah Al-Banani, jilid 1, hlm. 313)

Penjelasan senada juga disebutkan oleh Al-Khurasyi Al-Maliki,

وَمَعَ أَجْنَبِيٍّ غَيْرُ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ (ش) مَعْطُوفٌ عَلَى امْرَأَةٍ وَالْمَعْنَى أَنَّ عَوْرَةَ الْحُرَّةِ مَعَ الرَّجُلِ الْأَجْنَبِيِّ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى دَلَالِيّهَا وَقُصَّتُهَا مَا عَدَا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ ظَاهِرَهُمَا وَبَاطِنَهُمَا فَيَجُوزُ النَّظَرُ لَهُمَا بِلَا لَذَّةٍ وَلَا خَشْيَةِ فِتْنَةٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَوْ شَابَّةً وَقَالَ مَالِكٌ تَأْكُلُ الْمَرْأَةُ مَعَ غَيْرِ ذِي مَحْرَمٍ وَمَعَ غُلَامِهَا وَقَدْ تَأْكُلُ مَعَ زَوْجِهَا وَغَيْرِهِ مِمَّنْ يُؤَاكِلُهُ ابْنُ الْقَطَّانِ فِيهِ إبَاحَةُ إبْدَاءِ الْمَرْأَةِ وَجْهَهَا وَيَدَيْهَا لِلْأَجْنَبِيِّ إذْ لَا يُتَصَوَّرُ الْأَكْلُ إلَّا هَكَذَا اهـ.

Dan ketika bersama dengan lelaki non mahram, adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua tangan. Artinya, aurat perempuan merdeka ketika bersama lelaki non mahram adalah seluruh badannya hingga rambut ubun-ubunnya selain wajah dan kedua telapak tangannya; bagian punggung dan dalamnya, maka boleh memandang keduanya tanpa disertai perasaan menikmati dan tidak ada kekahwatiran syahwat tanpa uzur, sekalipun si perempuan masih muda. Imam Malik berkata, seorang perempuan makan bersama lelaki bukan mahramnya, terkadang bersama budak lelakinya, terkadang ia makan bersama suaminya dan lainnya dari orang-orang yang pernah makan bersamanya. Ibnu Qaththan berkata, dalam perkataan Imam Malik ini, terdapat keterangan tentang kebolehan menampak wajah dan kedua tangan oleh seorang perempuan kepada lelaki non mahram. Hal ini karena tidak mungkin dibayangkan aktifitas makan kecuali dengan cara semacam ini (yang menampakkan wajah dan tangan). (Syarah Mukhtashar Khalil Li Al-Khurasyi, jilid 1, hlm. 247)

Sampai di sini, apakah benar hanya mazhab Maliki saja yang berpendapat bahwa wajah dan kedua telapak tangan perempuan adalah aurat? Ternyata asumsi ini tidak benar. Karena ternyata dalam lingkungan ulama mazhab Syafi’i, ada juga ulama yang berpendapat bahwa wajah dan kedua telapak tangah perempuan bukan aurat. Di antara yang berpendapat demikian adalah Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari (w. 926 H.) dalam kitabnya Asna Al-Mathalib Fi Syarhi Raudh Al-Thalib. Beliau menulis,

(وَعَوْرَةُ الْحُرَّةِ فِي الصَّلَاةِ وَعِنْدَ الْأَجْنَبِيِّ) وَلَوْ خَارِجَهَا (جَمِيعُ بَدَنِهَا إلَّا الْوَجْهَ وَالْكَفَّيْنِ) ظَهْرًا وَبَطْنًا إلَى الْكُوعَيْنِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَغَيْرُهُ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَجْهُهَا وَكَفَّاهَا وَإِنَّمَا لَمْ يَكُونَا عَوْرَةً؛ لِأَنَّ الْحَاجَةَ تَدْعُو إلَى إبْرَازِهِمَا وَإِنَّمَا حُرِّمَ النَّظَرُ إلَيْهِمَا؛ لِأَنَّهُمَا مَظِنَّةُ الْفِتْنَةِ

Aurat perempuan merdeka di dalam shalat dan ketika di depan lelaki non mahram, walaupun di luar shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya; bagian punggung maupun dalamnya sampai pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah, Hendaknya mereka (perempuan) tidak menampakkan perhiasannya kecuali anggota tubuh yang biasa tampak (Qs. Al-Nur: 31). Ibnu Abbas dan lainnya berkata, maksud anggota tubuh yang biasa tampak adalah wajah dan kedua tangan perempuan. Alasan kenapa keduanya bukan termasuk aurat adalah karena hajat menuntut untuk menampakkan keduanya. Keharaman memandang keduanya (oleh lelaki non mahram) adalah karena keduanya menjadi objek yang diduga kuat dapat membangkitkan syahwat. (Asna Al-Mathalib Fi Syarh Raudh Al-Thalib, jilid 1, hlm. 176).

Jelas sekali Syaikh Zakariya Al-Anshari berpendapat bahwa wajah dan kedua tangan termasuk perkecualian. Jelas bukan aurat perempuan. Dalam bagian lain kitab Asnal Mathalib,

)فَصْلٌ نَظَرُ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ) فِيمَا يَظْهَرُ لِلنَّاظِرِ مِنْ نَفْسِهِ (مِنْ الْمَرْأَةِ إلَى الرَّجُلِ وَعَكْسِهِ جَائِزٌ) وَإِنْ كَانَ مَكْرُوهًا لِقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الثَّانِيَةِ {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النور: 31] وَهُوَ مُفَسَّرٌ بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ كَمَا مَرَّ وَقِيسَ بِهَا الْأُولَى وَهَذَا مَا فِي الْأَصْلِ عَنْ أَكْثَرِ الْأَصْحَابِ وَاَلَّذِي صَحَّحَهُ فِي الْمِنْهَاجِ كَأَصْلِهِ التَّحْرِيمُ وَوَجَّهَهُ الْإِمَامُ بِاتِّفَاقِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَنْعِ النِّسَاءِ مِنْ الْخُرُوجِ سَافِرَاتِ الْوُجُوهِ

Pasal: melihat wajah dan kedua tangan ketika dijamin aman dari fitnah dalam perspektif orang yang melihat terhadap dirinya sendiri, dari pihak perempuan kepada pihak lelaki dan sebaliknya adalah boleh. Walaupun makruh. Karena firman Allah dalam masalah kedua, hendaknya para perempuan tidak menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak (Qs. Al-Nur: 31). Apa yang biasa tampak ditafsirkan dengan wajah dan kedua tangan sebagaimana keterangan yang lalu. Masalah pertama diqiyaskan dengan masalah kedua. Hal ini adalah keterangan dalam kitab Asal yang menukil dari kebanyakan ulama Syafi’iyyah. Pendapat yang dishahihkan dalam kitab Al-Minhaj, sebagaimana kitab Asal-nya, adalah haram (melihat). Al-Imam menguatkan pendapat yang mengharamkan ini dengan kesekapatakan penguasa Muslim yang melarang para perempuan keluar rumah dengan wajah terbuka (Asna Al-Mathalib Fi Syarh Raudh Al-Thalib, jilid 3, hlm. 109).

Dalam bagian yang terkait dengan bab nikah ini, Syaikh Zakariya juga menegaskan kebolehan memandang wajah dan kedua tangan tanpa syahwat. Beliau juga menjelaskan bahwa memang ada khilafiyah di kalangan ulama mengenai masalah ini.

Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari tidak sendirian dalam mazhab Syafi’i. Imam Al-Baghawi (w. 516 H.) sebelumnya juga berpendapat bahwa di depan lelaki non mahram, aurat perempuan adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua tangan. Dalam kitab Syarh Al-Sunnah, beliau berkata,

وَأما المرأةُ مَعَ الرجل، فَإِن كَانَت أَجْنَبِيَّة حرَّة، فجميعُ بدنهَا عَورَة فِي حق الرجل، لَا يجوز لَهُ أَن ينظر إِلَى شَيْء مِنْهَا إِلا الْوَجْه وَالْكَفَّيْنِ إِلَى الكوعين، لقَوْله عز وَجل: {وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا} [النُّور: 31] قيل فِي التَّفْسِير: هُوَ الْوَجْه والكفان، وَعَلِيهِ غض الْبَصَر عَنِ النّظر إِلَى وَجههَا ويديها أَيْضا عِنْد خوف الْفِتْنَة، لقَوْله سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: {قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ} [النُّور: 30].

Adapun ketika bersama lelaki, bila ia adalah perempuan non mahram yang merdeka, maka seluruh badannya adalah aurat bagi lelaki tersebut. Lelaki itu tidak boleh memandang sesuatu pun dari badan si perempuan kecuali wajah dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan firman Allah, Hendaknya mereka para perempuan tidak menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa tampak. (Qs. Al-Nur: 31). Dikatakan dalam tafsirnya, yang biasa tampak adalah wajah dan kedua tangan. Bagi lelaki non mahram wajib menundukkan pandangannya dari wajah dan kedua tangannya juga ketika dikhawatirkan akan timbul syahwat. Hal ini berdasar firman Allah, katakanlah kepada orang-orang mukmin, hendaknya mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya (Qs. Al-Nur: 30). (Syarh Al-Sunnah, jilid 9, hlm. 23).

Demikian penjelasan para ulama tentang aurat perempuan di luar shalat dan di depan lelaki non mahram. Agaknya, umat Islam di Indonesia memilih pendapat yang menyatakan bahwa aurat perempuan di luar shalat adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua tangan sampai pergelangan. Hal ini bukan pendapat yang asing di kalangan ulama mazhab Syafi’i, sebagaimana menjadi pendapat Imam Al-Baghawi  dan Zakariya Al-Anshari. (M. Khoirul Huda)