Apakah Rasulullah Memperingati Hari Lahirnya?

Jumat, 22 November 2019 diskusi 189 klik
M. Khoirul Huda Teks:M. Khoirul Huda
Faza Grafis:Faza

Maraknya kegiatan peringatan Maulid Nabi di seluruh penjuru dunia Islam membuat sebagian umat Islam penasaran. Apakah kegiatan semacam itu sesuai dengan ajaran Islam atau tidak. Pada umumnya, mayoritas ulama tidak mempermasalahkan kegiatan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. selama diisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Bahkan, sebagian ulama menegaskan anjuran mengadakan peringatan Maulid Nabi yang diisi dengan kegiatan berkumpul, membaca Al-Quran, bersedekah, silaturahim, dan amalan-amalan kebaikan lainnya. Fatwa semacam ini juga tidak membuat dahaga penasaran sebagian umat Islam hilang. Mereka lalu bertanya, apakah para sahabat atau bahkan Rasulullah SAW sendiri melakukan peringatan atas hari lahirnya? Mereka melihat bahwa dalam sejarah peringatan Maulid Nabi muncul ratusan tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Ada yang mengatakan pelopornya adalah penguasa Mesir yang beraliran Syiah. Versi lain mengatakan pelopornya adalah seorang raja di kota Mosul, Irak. Dengan anggapan semacam itu mereka kemudian yakin bahwa peringatan Maulid Nabi adalah amalan baru yang tidak punya dasar pada masa Nabi Muhammad SAW.

Jika pertanyaannya adalah apakah Rasulullah SAW memperingati hari lahirnya, maka jawabannya sangat mudah. Rasulullah SAW memperingati kelahirannya dengan cara beribadah puasa. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang apa latar belakang dilakukannya puasa hari Senin.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: "فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ"

Dari Abu Qatadah Al-Anshar bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Senin. Beliau menjawab, “(Karena) saat itu aku dilahirkan dan saat itu aku dituruni wahyu.” (HR. Muslim).

Hadis ini diriwayatkan dalam banyak kitab hadis. Di antaranya Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Musnad Ahmad, Shahih Ibnu Khuzaimah, dan Syu’ab Al-Iman. Syekh Al-Mubarakfuri (w. 1414 H.), mengatakan bahwa tujuan Nabi Muhammad SAW berpuasa pada hari Senin adalah untuk mensyukuri kedua nikmat Allah tersebut.

Dalam kitab Mir’at Al-Mafatih Syarah Misykat Al-Mashabih, beliau berkata,

(فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ) أي الوَحْيُ (عَلَىَّ) أي فَأَصُوْمُ شُكْراً لِهَاتَيْنِ النِّعْمَتَيْنِ

(Di saat itu aku dilahirkan dan saat itu aku diberi wahyu) maka aku berpuasa sebagai ungkapan syukur untuk kedua nikmat tersebut

 

Keterangan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mensyukuri hari lahirnya dengan cara beribadah. Yaitu ibadah puasa. Tujuannya adalah mensyukuri nikmat Allah karena sudah dilahirkan pada hari tersebut. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Rasulullah SAW dalam riwayat yang sahih tersebut telah memperingati hari kelahirannya. Peringatan itu sendiri bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur. Cara memperingatinya adalah dengan beribadah.

 

Maulid merupakan bentuk isim zaman atau isim makan yang berarti tempat atau waktu kelahiran. Memperingati maulid berarti memperingati hari kelahiran. Maulid Nabi berarti waktu lahirnya Nabi. Nabi Muhammad SAW telah memperingati hari lahirnya dengan cara beribadah. Kita sebagai umatnya, dapat meneladani contoh yang diberikan beliau, memperingati kelahiran beliau dengan melakukan amal shaleh yang tidak dilarang agama. Mensyukuri kelahiran Rasulullah SAW adalah bentuk kecintaan dan penghormatan kepada manusia agung yang telah membawa umat manusia ke jalan kebaikan. Kelahirannya merupakan kado dari Allah untuk umat manusia.