Tips Sholat Khusyuk Menurut Imam Al-Ghazali

Sabtu, 3 Agustus 2019 dakwah 634 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Khusyuk secara bahasa artinya adalah tenang. Shalat yang khusyuk adalah shalat yang dilakukan dengan:

  1. Hati yang tenang yaitu dengan cara mengosongkan hati untuk merenungkan apa yang sedang ia lakukan dan tidak memikirkan hal lain walaupun itu berhubungan dengan akhirat. Artinya ketika takbir ia merenungkan kebesaran Allah. Ketika membaca do’a iftitah, ia merenungkan makna-maknanya dan seterusnya. Oleh sebab itu, hendaknya kita memahami makna bacaan yang kita baca dalam sholat.
  2. Anggota tubuh yang tenang yaitu dengan meninggalkan gerakan-gerakan yang tidak diperlukan di dalam sholat seperti memainkan jenggot, pakaian, melirik-lirik, dan lain-lain.

Di antara cara agar menjadi khusyuk adalah dengan menghadirkan dalam hati bahwasannya ia tengah berdiri dihadapan Allah SWT yang maha mengetahui setiap gerakan badan dan lintasan hati. Kita tengah bermunajat kepada-Nya. Dengan demikian kita akan selalu menjaga semua gerakan dan lintasan hati ketika shalat.

Imam Ghozali memberi tips agar sholat yang kita kerjakan bisa khusyuk sebagaimana keterangan dalam kitab Ihya Ulumuddin:

ولكنّ الضّعيف لابدّ وان يتفرّق به فكره وعلاجه قطع هذه الأسباب بأن يغضّ بصره أويصلّي في بيت مظلم أولايترك بين يديه ما يشغل حسّه ويقرّب من حائط عند صلاته حتّي لاتتّسع مسافة بصره ويحترز من الصّلاة علي الشّوارع وفي المواضع المنقوشة المصنوعة وعلي الفرش المصبوغة (احياء علوم الدّين)

“Akan tetapi, orang yang ‘lemah’, tentu (penglihatan dan pendengaran) itu yang membuat pikirannya tidak fokus. Jalan keluarnya ialah melepaskan diri dari segala bentuk penyebab tidak fokusnya.  Misalnya dengan cara menundukkan penglihatan, sembahyang di tempat gelap, menyingirkan sesuatu di hadapan kita yang bisa mengganggu pikiran, mengambil posisi sembahyang yang dekat dengan dinding agar jarak pandang terbatas. Ia perlu menghindari posisi sembahyang di tempat yang dekat dengan jalan, di tempat yang terdapat ukiran atau lukisan, dan di atas tikar yang dicelup (diwarnai).”

Langkah pertama yang harus dilakukan ialah mengenali penyebab utama ke-tidak-fokus-an sembahyang. Menurut Imam Al-Ghozali, penglihatan dan pendengaran merupakan sumber utama godaan. Segala sesuatu yang pernah dilihat dan didengar biasanya hadir secara tiba-tiba ketika mengerjakan sembahyang. Inilah yang membuat pikiran menjadi kacau-balau sehingga tidak fokus memaknai setiap bacaan yang dilafalkan ketika sembahyang. Untuk mengatasi ini, perlu latihan khusus agar keduanya bisa dikendalikan. Di antaranya adalah menundukan pandangan atau memejamkan mata. Melalui cara ini, setidaknya penglihatan kita tidak terlalu luas dan liar di saat mengerjakan sembahyang. Atau bisa juga dengan mengerjakan sembahyang di tempat yang gelap dan sepi. Lazimnya, beribadah di tempat seperti itu lebih fokus ketimbang di tempat yang terang.

Posisi sembahyang juga berpengaruh terhadap kefokusan. Imam Al-Ghazali menganjurkan para pemula yang sedang berlatih sembahyang dengan khusyuk agar sembahyang di dekat dinding. Sebab dinding bisa menjadi penghalang mata untuk tidak melihat ke berbagai penjuru. Selain posisi, lokasi sembahyang juga mempengaruhi, sembahyang di tempat yang banyak ukiran, gambar, dan di atas sajadah yang memuat berbagai corak warna bisa mengurangi kefokusan hati. Sebab itu, ruang sembahyang perlu ditata sebaik mungkin agar dapat membantu konsetrasi.

واحضر قلبك ما انت فيه, وفرّغه من الوسواس, وانظر بين يدي من تقوم, ومن تناجي, واستح ان تناجي مولاك بقلب غافل, وصدر مشحون بوساوس الدنيا وخبائث الشهوات. واعلم انه تعالي مطّلع علي سريرتك وناظر الي قلبك, فانما يتقبّل اللّه من صلاتك بقدر خشوعك وخضوعك وتواضعك وتضرّعك, (بداية اهداية)

Hadirkan hatimu (ketika shalat), buanglah segala bisikan dan rasa was-was. Perhatikan kepada siapa engkau sedang menghadap dan bermunajat sekarang. Hendaknya engkau malu untuk bermunajat kepada Tuhan dengan hati yang lalai dan dada yang penuh dengan bisikan dunia beserta bejatan syahwat. Sadarlah bahwa Allah SWT, mengetahui semua yang tersembunyi di dalam dirimu dan melihat hatimu. Allah hanya menerima sholatmu sesuai dengan kadar kekhusyukan, ketundukan, dan ketawaduanmu. (Idah Mahdmudah)