Tata Cara Salat Witir


Salat witir adalah salat sunnah dengan bilangan rakaat ganjil yang dilakukan setelah salat Isya sampai terbit fajar. Paling sedikit satu rakaat sampai maksimalnya sebelas rakaat. Hukumnya sunah menurut Mazhab Syafi’i, wajib menurut Imam Abu Hanifah. Banyak sekali hadis yang menunjukkan perintah dan keutamaan salat witir, antara lain, sabda Rasululllah SAW,

إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا ، وَهِيَ الْوَتْرُ ؛ فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلىَ صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu salat, maka jagalah salat tersebut. Salat itu adalah witir. Maka salatlah di antara shalat Isya sampai salat fajar”. (HR. Ahmad)

Adapun pelaksanaannya boleh dilakukan setelah salat Isya langsung, di awal waktu, atau diundur sampai akhir malam setelah tidur. Mengenai keutamannya, melihat motivasi dan kondisi masing-masing. Jika yakin bisa bangun di akhir malam maka sebaiknya diakhirkan, tetapi jika tidak yakin, maka sebaiknya segera dilakukan di awal waktu sebelum tidur. Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ؛ فَلْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُوْمَ آخِرَهُ؛ فَلْيُوْتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ ؛ فَإِنَّ صَلاَةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ.

“Barang siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam, maka witirlah di awalnya. Dan yang yakin akan bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam; karena shalat di akhir malam disaksikan dan itu lebih utama.” (HR. Muslim).

Setelah melakukan salat witir di awal waktu, boleh melakukan salat sunnah lain pada malam harinya setelah bangun tidur, tetapi sebaiknya tetap ditutup dengan salat witir yang merupakan lanjutan salat witir sebelumnya.

Adapun caranya boleh dengan menggenapkan dulu witir sebelumnya, kemudian diakhiri dengan rakaat ganjil. Atau langsung dengan rakaat genap dengan niat witir, sehingga jika ditambahkan dengan witir yang dilakukan di awal waktu jumlahnya tetap ganjil. Artinya, salat witirnya tetap hanya sekali dan dilakukan di akhir salat malam. Yang demikian ini agar bisa mengamalkan hadis dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda,

اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً

“Jadikanlah akhir salat kalian di malam hari dengan witir” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan hadis dari Thalq bin Ali yang berkata,

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ: لاَ وِتْرَانِ فِي لَيْلَةٍ

“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada dua witir dalam semalam” (HR. Ahmad).

(HM. Afif Al Mubarok)