Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Hadis “Mencari Ilmu Fardhu Bagi Semua Muslim”

Minggu, 5 Januari 2020 dakwah 154 klik
Faza Grafis:Faza

Setiap pembahasan berkaitan dengan kewajiban menuntut ilmu, barangkali kita semua akrab dengan sebuah redaksi hadis yang berbunyi:

طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

Artinya: menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.

Kandungan atau keshahihan makna hadis tersebut tidak perlu diragukan karena ia memang menjelaskan sesuatu yang telah menjadi kesepakatan semua orang tentang keharusan menuntut ilmu. Namun para ulama memperselisihkan tentang shahih tidaknya kualitas hadis tersebut dari sisi ia dinisbatkan sebagai ungkapan yang berasal dari ucapan Rasulullah Saw.

Para ahli dan penghafal hadis berbeda pendapat terkait hadis tersebut dari berbagai jalur transmisi atau sanad periwayatannya.

  1. Mayoritas ulama seperti imam Ahmad Ibn Hanbal, Ishaq Ibn Rahawaih, Abu Dawud, al-Bazzar, al-Hakim, al-baihaqi, Ibn Abdilbarr, Ibn Shalah, Imam Nawawi, al-Zahabi, Ibn al-‘Arabi dan lain-lain mengatakan bahwa hadis tersebut statusnya dhaif dan bermaslah dari keseluruhan jalur periwayatannya.
  2. Al-Hafizh al-Sakhawi dan al-Suyuthi mengatakan  bahwa ada beberapa jalur periwayatan yang statusnya berkualitas hasan.
  3. Al-Hafizh al-‘Iraqi diceritakan bahwa beliau mengatakan bahwa hadis tersebut shahih adanya. Al-Suyuthi sendiri mengatakan bahwa al-‘Iraqy merupakan satu-satunya ulama yang beliau ketahui menshahihkan hadis tersebut.
  4. Ibn al-Jawzi secara tegas mengatakan bahwa hadis tersebt merupakan riwayat yang bathil, beliau memasukkan hadis tersebut dalam kitab al-Maudhu’at, sebuah kumpulan hadis-hadis yang beliau simpulkan palsu berdasarkan penelitian beliau.

Berdasarkan penjelasan al-Suyuthi, hadis tersebut tergolong kepada hadis yang memiliki banyak jalur periwayatan, hingga sampai pada derajat mutawatir. Beliau mengatakan bahwa hadis tersebut memiliki setidaknya 80 jalur periwayatn pada tingkatan sahabat. Syaikh Ahmad Ibn Muhammad Ibn Shiddiq al-Ghumary sendiri menulis sebuah kitab khusus yang menjelaskan secara detail kualitas dan penilaian terhadap berbagai jalur periwayatan hadis tersebut, kitab tersebut beliau beri judul:

المسهم فى بيان حال حديث طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

Berdasarkan penelitian al-Ghumary sendiri, hadis tersebut memiliki sembilan jalur periwayatan pada tingkat sahabat, yaitu Anas Ibn Malik, Abdullah Ibn Mas’ud, Ibn Abbas, Abi Sa’id al-Khudry, Ibn Umar, Ali Ibn Abi Thalib, Husain Ibn Ali, Abu Hurairah dan Nabith Ibn Syarith. Masing-masing sahabat juga memilki cabang-cabang periwayatan yang lebih banyak lagi pada tingkatan di bawahnya. Misalnya yang paling banyak adalah dari jalur Anas Ibn Malik diriwayatkan oleh hampir dua puluh orang yang bebeda. Berbagai jalur periwayatan tersebut tersebar dalam berbagai kitab-kitab periwayatan hadis.

Al-Ghumary sendiri berkesimpulan bahwa tidak semua jalur tersebut bermasalah, beliau mengatakan bahwa ada riwayat dimana para perawi di dalamnya seluruhnya shahih yaitu dari jalur Qatadah, dari Anas Ibn Malik, riwayat denga jalur tersebut disebutkan oleh al-Hafizh Ibn Syahin dalam kitab  al-Afrad dan para perawi dalam jalur tersebut dikatakan shahih oleh al-Hafizh al-Sakhawy. Al-Zarkasyi sendiri mengatakan bahwa jalur tersebut merupakan yang paling tinggi kulitasnya dibandingkan berbagai jalur yang lain. Al-Ghumary juga menyebutkan satu jalur lain yang statusnya hasan yaitu jalur Tsabit dari Anas Ibn Malik. Jalur tersebut ditemukan dalam kitab al-‘Ilm karangan Ibn abdilbarr. Kedua jalur tersebut seharusnya sudah cukup untuk menopang kualitas hadis tersebut apalagi ditambah dengan berbagai riwayat dari jalur yang lain.

Al-Ghumary mengatakan bahwa tidak mungkin serta merta mengatakan bahwa hadis ini dhaif, ini merupakan bentuk terlalu menyederhanakan masalah, dan mengabaikan beragam jalur periwayatan hadis tersebut yang sangat banyak. Para peneliti hadis sebelumnya boleh jadi hanya mengomentari kelemahan hadsi tersebut tersebut dari sebagian jalur yang mereka peroleh saja.

Paparan singkat ini setidaknya telah dapat membuat kita memaklumi mengapa hadis tersebut amat sangat masyhur meskipun kualitas sanadnya dinyatakan bermasalah oleh banyak ulama. Ternyata hadis tersebut memiliki jalur periwayatan yang sangat banyak. Terakhir perlu diingat bahwa yang diperselisihkan itu hanyalah validitas sanad penyandaran kalimat tersebut kepada Rasulullah Saw, sedangkan kebenaran makna dan isi hadis tersebut terkait dengan keharusan menuntut ilmu adalah sesuatu yang tidak perlu dipermasalahkan (Rudy Fachruddin)