Perbedaan Niat Puasa Wajib dan Puasa Sunnah


Dasar paling penting dalam ibadah adalah niat. Niat menentukan keabsahan, derajat, keutaman, bahkan pahala sebuah ibadah. Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Niat adalah amalan hati, sehingga hanya Allah SWT dan pribadi masing-masing yang tahu tentang niat, maksud, tujuan, serta motivasi seseorang dalam berbuat, beramal, atau beribadah.

Niat menurut bahasa adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan. Orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti "sengaja". Berarti niat itu harus menggunakan hati, sementara lisan sunah mengucapkannya untuk membantu menghadirkan niat tersebut dalam hati.

Menurut Imam Nawawi niat adalah bermaksud dan bertekad untuk melakukan sesuatu bersamaan dengan mengerjakannya.”

Baik puasa wajib maupun sunah, niat merupakan rukun yang harus dilaksanakan. Puasa tidak sah hukumnya ketika tidak didahului dengan niat.

Berikut persamaan dan perbedaan niat puasa wajib dan sunah:

1. Puasa Wajib : Waktu niatnya mulai terbenam matahari sampai terbitnya fajar, wajib di malam hari.

Puasa Sunah : Waktu niatnya mulai terbenam matahari sampai dengan tergelincirnya matahari (waktu Dhuhur) selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

2. Puasa Wajib : harus menentukan jenis puasanya, seperti puasa Ramadhan, kaffarah, nadzar, atau qadha’.

Puasa Sunah : Tidak wajib menentukan jenis puasa, kecuali puasa yang memiliki waktu khusus seperti puasa ‘Arafah, menurut pendapat mu’tamad.

3. Puasa Wajib : Tidak boleh mengumpulkan (niat) dua jenis puasa wajib sekaligus dalam satu hari.

Puasa Sunah : Boleh mengumpulkan (niat) dua jenis puasa sunah atau lebih dalam satu hari, seperti puasa kamis, arafah, dan ayyaamil bidh (tanggal, 13, 14, dan 15 bulan hijriyyah). (HM. Afif Al Mubarak)