Mengenal Dua Macam Doa Kunut, Yang Pertama Bisa Tolak Musibah Susah Jodoh?


Kunut, dalam bahasa Arab Qunut, adalah doa khusus yang biasanya dibaca setelah rakaat kedua dalam salat subuh (KBBI). Masyarakat Muslim di Indonesia sangat akrab dengan tersebut. Setiap salat, subuh sebagian besar masjid di Indonesia membacanya. Doa kunut juga dibaca ketika bulan Ramadan sudah mencapai 15 hari. Pertengahan hingga akhir Ramadan, rakaat terakhir salat witir selalu disertai doa kunut. Lalu, bagaimana sebenarnya doa kunut tersebut?

Dalam kitab Kasyifatussaja, Syekh Nawawi al-Bantani bekata,

والقنوت هو ذكر مخصوص مشتمل على دعاء وثناء ويحصل بكل لفظ اشتمل عليهما بأي صيغة شاء كقوله: اللهم اغفر لي يا غفور، فالدعاء يحصل باغفر والثناء بغفور،

Kunut adalah zikir tertentu yang mengandung doa dan pujian (pada Allah), dan dapat menggunakan setiap redaksi yang mengandung keduanya, seperti kalimat: Allahumma ighfir li, Ya Ghafur. Doanya dengan kata "ighfir" dan pujiannya dengan kata "ghafur".”

Berdasarkan beberapa hadis, kunut bisa dibagi menjadi dua macam, yaitu Qunut Nazilah dan Qunut Ratibah.

Qunut Nazilah adalah kunut yang dibaca ketika umat Islam tertimpa musibah atau berada dalam kondisi genting seperti perang dan lain sebagainya. Ibnu Abbas berkata,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ ، يَدْعُو عَلَى رَعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الأَخِيرَةِ ، وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“Rasulullah -shallallahu 'alahi wa sallam- melakukan qunut selamat satu bulan secara berturut-turut pada waktu Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh. Beliau mendoakan keburukan untuk kabilah Ra’l, Dzakwan dan Ushaiyyah pada (rakaat) akhir setiap shalat usai beliau membaca sami’allahu liman hamidah. Dan para ma’mum membaca amiin.” (HR. Abu Dawud)

Sedangkan Qunut ratibah adalah kunut yang dibaca rutin dalam shalat subuh dan shalat witir.

Dalil kunut shalat Subuh adalah hadits dari Anas bin Malik,

أَنَّ النَّبِيَّ قَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو عَلَيْهِمْ ثُمَّ تَرَكَهَ فَأَمَّا فِي الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتىَّ فَارَقَ الدُّنْيَا

“Bahwa Nabi SAW melakukan doa qunut selama sebulan mendoakan keburukan untuk mereka, kemudian meninggalkannya. Sedangkan pada waktu shubuh, beliau tetap melakukan doa qunut hingga meninggal dunia. (HR. Al-Baihaqi)

Adapun kunut Shalat witir maka berdasarkan hadis dari al-Hasan bin ‘Ali, RA berkata,

عَلَّمَنِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُوْلُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: ” اللَّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ ، وَعَافِنِيْ فِيْمَنْ عَافَيْتَ ، وَتَوَلَّنِيْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْمَا أَعْطَيْتَ ، وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ ؛ إِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ ، وَ إِنَّهُ لاَ يُذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

“Rasulullah SAW telah mengajarkan kepadaku doa yang aku baca pada qunut witir: “Ya Allah, tunjukilah aku sebagaimana Engkau berikan petunjuk (kepada selainku), berilah keselamatan sebagaimana Engkau berikan keselamatan (kepada selainku), jadikanlah aku wali-Mu sebagaimana Engkau jadikan (selainku) sebagai wali, berilah keberkahan kepadaku pada semua pemberian-Mu, lindungilah aku dari kejelekan takdir-Mu; sesungguhnya Engkau mentakdirkan dan tidak ditakdirkan, dan sesungguhnya tidak terhinakan orang yang menjadikan Engkau sebagai wali, dan tidak mulia orang yang Engkau musuhi. Maha suci dan Maha tinggi Engkau, wahai Rabb kami”. (HR Abu Dawud).

Berdasarkan keterangan di atas maka membaca doa qunut, baik ratibah maupun nazilah yang terdiri dari qunut subuh dan witir adalah sunah. (HM. Afif Al Mubarak)