Enam Pesan Al-Quran Tentang Kelestarian Lingkungan

Kamis, 6 Februari 2020 dakwah 345 klik
Faza Grafis:Faza

Kerusakan lingkungan hidup telah menjadi masalah besar dalam beberapa dekade belakangan. Umat manusia hanya sedang menunggu beberapa bencana besar, sebagai akibat dari kerusakan alam dan lingkungan. Suhu bumi yang terus meningkat, volume hutan yang terus menyusut, kualitas air, tanah dan udara yang semakin menurun, kepunahan spesies adalah masalah yang sudah mengancam di depan mata. Penyelesaian atau setidaknya perlambatan terhadap banyak ancaman tersebut merupakan tanggung jawab setiap orang dengan berbagai sudut pandang dan tugas mereka.

Konservasi alam dan lingkungan sendiri adalah tema yang telah disinggung dalam Alquran, tulisan ini diharapkan dapat menjadi sedikit pemantik bagaimana living Quran terhadap ayat-ayat lingkungan hidup dapat menumbuhkan kesadaran dan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan bagi umat Islam. Semangat tersebut setidaknya terwakili dalam beberapa tema ayat berikut;

1. Kerusakan di muka bumi

Di dalam Alquran kata dengan akar فسد yang bermakna “rusak”, dalam berbagai variasi bentuknya disebutkan sebanyak lebih dari 50 kali, dan hampir seluruhnya berbicara tentang kerusakan di muka bumi, hanya ada satu ayat dalam penyebutan kata tersebut yang tidak berbicara tentang kerusakan di muka bumi. Kata فسد secara garis besar bermakna kondisi dimana sesuatu menyimpang keluar dari keadaan normal dan stabil seperti seharusnya.

Logika masyarakat saat ayat Alquran diturunkan boleh jadi hanya dapat membayangkan kerusakan yang dimaksud dalam skala yang kecil dan terbatas, namun, dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, kita menyadari bahwa potensi kerusakan di muka bumi seolah tidak mengenal batasan, hingga dapat berlangsung sampai pada skala cukup massif misal hilangnya sumberdaya pokok manusia seperti udara dan air bersih, kepunahan masal bahkan perubahan iklim global.  tentu tidak berlebihan jika dikatakan banhwa besarnya ruang lingkup dan jangkauan kerusakan yang dimaksud adalah alasan mengapa term tersebut diulang-ulang dalam berbagai tempat.

Perkembangan ilmu pengetahuan juga menyajikan fakta menakutkan bahwa kerusakan lingkungan adalah sebuah permasalahan yang kompleks, rusaknya sebuah aspek lingkungan dapat memicu efek berantai rusaknya aspek-aspek yang lain. Pencemaran air memicu terjadinya pencemararan tanah, pencemaran tanah kemudian memicu pencemaran udara dan seterusnya. Kerusakan di darat berjalan terus hingga ke laut dan udara. Hal ini pun secara tegas diperingatkan dalam ayat berikut:

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia (Qs. Ar Rum: 41)

Kerusakan yang disebutkan dalam Alquran bahkan lebih jauh menembus sampai ke langit, bagian di mana belum terjangkau oleh kegiatan manusia kecuali dalam beberapa dekade belakangan. Allah Swt berfirman:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلۡحَقُّ أَهۡوَآءَهُمۡ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ

Artinya:  Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini. (Qs. Mukminun: 71)

Tanpa harus memeriksa puluhan ayat lain yang mengandung kata tersebut, kita sudah cukup memaklumi mengapa ungkapan “rusaknya bumi” adalah sesuatu yang penting sehingga ia diulang kali penyebutannya dalam Alquran.

2. Kerusakan bumi adalah hasil perbuatan manusia

Kata yang berakar dari فسد disebutkan dalam bentuk kata kerja di dalam Alquran sebanyak 19 kali, sebagian besar keterangan pelakunya adalah umat manusia. Logika manusia masa lalu tentu amat terbatas dalam memahami sejauh mana mereka dapat menimbulkan kerusakan di muka bumi ini. Namun, kita saat telah nyata melihat bagaimana kegiatan perburuan yang dilakukan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan spesies tertentu tersapu bersih eksistensinya di bumi alias punah, bagaimana kegiatan industri merusak lingkungan di sekitarnya, bagaimana pembangunan yang dilakukan manusia dapat membabat habis hutan-hutan di banyak lokasi, bagaimana manusia mengembangkan system persenjataan yang dapat melenyapkan sebuah pulau besar sekaligus dan berbagai aktifitas manusia yang lain yang dapat mempengaruhi lingkungan secara massif. Allah berfirman salah satunya dengan bunyi sebagai berikut:

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ 

Artinya:  Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (Qs. Al Baqarah: 20 5)

3. Hidup dengan hemat dan efisien

Perilaku hidup boros yang berujung pada penghabisan sumberdaya yang tidak terkendali merupakan salah satu aspek yang memberi sumbangan banyak bagi kerusakan alam. Penggunaan air, bahan bakar fosil, kertas dan lain-lain pada akhirnya memicu berbagai kerusakan. Alquran telah memberikan ancaman dan teguran keras terhadap praktik hidup mubazir dan berfoya-foya, bahkan disebutkan bahwa gaya hidup demikian tak ubahnya seperti saudaranya setan.

إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا 

Artinya: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (Qs. Al Isra: 27)

4. Alam telah memiliki sistem yang teratur

Alquran menjelaskan bahwa alam ini diciptakan dan berjalan dengan sebuah pola yang teratur. Allah berfirman:

إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ 

Artinya:  Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Qs. Al Qamar: 29)

Alam pun memiliki sistem pemeliharaan diri yang efektif. Ilmu pengetahuan telah memberikan fakta bagaimana siklus air, udara dan berbagai sumber daya alam lainnya berlangsung. Bagaimana rantai makanan berjalan dengan seimbang tanpa menimbulkan kepunahan spesies tertentu. Bagaimana berbagai benda di tanah dapat terurai dengan baik.  Akan tetapi aktifitas umat manusia pada akhirnya merusak berbagai tatanan sistem pertahanan alam tersebut.

5. Pengerusakan lingkungan hutan bukan masalah kecil

Pada masa lalu dengan jumlah populasi umat manusia yang sedikit, peralatan yang sederhana, orang tidak dapat membayangkan seberapa jauh mereka dapat merusak atau melenyapkan hutan dalam ruang lingkup yang besar. Padahal pengrusakan terhadap tanaman telah disinggung dalam ayat Alquran sebagai sebuah karakter buruk segolongan manusia, Allah Swt berfirman:

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ 

Artinya:  Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (Qs. Al Baqarah: 205)

Manusia sekarang tentu telah menyadari fungsi hutan dan apa yang akan terjadi saat hutan terus tergerus. Apalagi dalam beberapa tahun ini, keadaan tersebut telah berlangsung pada taraf yang mengkhawatirkan.

6. Kerusakan lingkungan, sesuatu yang tidak terhindarkan

Pada akhirnya, kerusakan bumi tetap saja sesuatu yang sulit diatasi sepenuhnya. Populasi manusia yang terus meningkat pesat, ketersediaan dan pembaruan sumberdaya alam yang terbatas dalam upaya pemenuhan kebutuhan manusia, tidak adanya strategi yang benar-benar efektif untuk menyelesaikan berbagai masalah lingkungan yang timbul. Fakta-fakta di atas membuat kerusakan lingkungan menjadi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan sepenuhnya.

Volume sampah yang besar hanya dapat diupayakan agar tidak mengalir ke laut, lalu ditumpuk pada titik konsentrasi tertentu, proses daur ulang sampah pun tidak efektif, hasil daur ulang dengan hasil guna yang terbatas membuat permasalahan sampah nyatanya hanya meminimalisir dampak buruk yang ditimbulkan. Dalam proses deforestisasi, manusia hanya perlu satu jam untuk menebang ratusan pohon-pohon besar, sedangkan untuk menanam satu pohon membutuhkan waktu bertahun-tahun. Semua keadaan di atas bahkan menghasilkan kesimpulan pada akhirnya bumi tetap akan sampai pada titik tidak lagi menampung kehidupan yang layak. Alquran menyebutkan:

وَلَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرّٞ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٖ 

Artinya: dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (Qs. Al Baqarah: 36).

Penutup

Spirit pemeliharaan lingkungan hidup dalam Alquran tentu bukan lah berwujud langkah strategis dan praktis untuk menyelesaikan berbagai masalah lingkungan yang muncul. Namun, kesadaran dan perhatian yang serius terhadap konservasi lingkunagn hidup baru muncul satu abad belakangan. Akan tetapi Alquran telah menyinggung potensi dan kemungkinan munculnya problem tersebut belasan abad belakangan (Rudy Fachruddin).