Empat Macam Sikap Manusia Terhadap Kebaikan

Sabtu, 3 Agustus 2019 dakwah 183 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Sekalipun manusia dikaruniai akal yang menjadi sarana untuk berpikir dan merenung tentang tujuan hidup di dunia, tetapi tetap saja ada di antara mereka yang lebih memperturutkan hawa nafsunya sehingga lambat dalam menerima kebenaran, nasehat dan kebaikan. Perilakunya pun terkadang jauh lebih hina daripada binatang ternak. Ini adalah fakta dan diakui oleh siapa saja. Tak terkecuali, Al-Ghazali. Oleh karenanya, dalam Ihya Ulumuddin, beliau membagi manusia dalam hal merubah akhlak menjadi empat tingkatan:

الاولي وهو الإنسان الغفل الذي لايميز بين الحق والباطل والجميل والقبيح بل بقي كما فطر عليه خاليا عن جميع الاعتقادات ولم تستتم شهوته أيض .....الخ

Pertama, orang lalai yang tidak bisa membedakan antara hak dan bathil, dan yang bagus dari yang jelek, bahkan dia tetap berada dalam fitrahnya yang terbebas dari semua keyakinan, dan syahwatnya juga tidak sepenuhnya mengikuti kesenangan-kesenangan. Ini adalah yang paling mudah diobati. Ia hanya butuh pembimbing dan motifasi yang mendorongnya untuk mengikuti nasehat.

والثّانية ان يكون قد عرف قبح القبيح ولكنه لم يتعود العمل الصالح بل زين له سوء عمله فتعاطاه انقيادا لشهواته وإعراضا عن صواب رإيه لاستيلاء الشهوة عليه.....الخ

Kedua, orang yang mengetahui keburukan dari sesuatu yang buruk, tetapi dia belum membiasakan amal shalih, bahkan amalannya yang buruk diperhias seoah-olah baik. Dia tunduk kepada syahwatnya dan berpaling dari kebenaran rasionya karena dikuasai oleh syahwatnya, padahal ia tahu keteledorannya, maka urusannya lebih sulit dari yang pertama karena penyakitnya berlipat-lipat. Karena dia wajib melepaskan kebiasaan buruk yang mengakar kuat dalam dirinya, dan mengarahkan jiwanya kepada hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan buruknya.

والثالث أن يعتقد في الاخلاق القبيحة أنها الواجبة المستحسنة وانها حق وجميل وتربي عليها فهذا يكاد تمتنع معالجتة ولا يرجي صلاحه إلاعلي الندور وذلك لتضاعف أسباب الضلال.

Ketiga, orang yang meyakini bahwa yang buruk itu adalah benar dan bagus. Orang seperti ini, kata Al-Ghazali, tidak bisa diharapkan penyembuhannya kecuali hanya segelintir saja yang bisa disembuhkan, sebab kesesatannya berlipat-lipat.

والرابعة أن يكون مع نشئه علي الرأي الفاسد وتربيّته علي العمل به يري الفضيلة في كثرة الشر واستهلاك النفوس ويباهي به ويظن أن ذلك يرفع قدره وهذا هو اصعب المراتب وفي مثله ......الخ

Keempat, orang yang tumbuh di atas keyakinan yang rusak, dan terdidik dalam mengamalkan keyakinan tersebut; dia melihat keutamaannya dalam banyaknya kejahatan, pembantaian nyawa manusia, dan berbangga-bangga dengan kerusakannya, dan dia menganggap itulah yang bisa mengangkat kedudukannya. Maka, orang ini, kata Al-Ghozali, tingkatan yang paling sulit diobati. Permisalannya seperti, “Termasuk penyiksaan adalah melatih serigala agar beretika, dan mencuci yang hitam agar bisa menjadi putih.”

Selanjutnya, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa yang pertama adalah orang bodoh, yang kedua adalah orang bodoh dan sesat, yang ketiga adalah orang bodoh, sesat, dan fasik, dan yang keempat adalah orang bodoh, sesat, fasik, dan jahat.

Sedangkan teori tentang metode untuk mendidik akhlak, Al-Ghazali mempermisalkan kasus sehat dan sakitnya badan sebagi contoh untuk menjelaskan sehat dan sakitnya jiwa. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kesehatan badan ada pada normalitas kondisinya, dan sakit badan bersumber dari kecenderungan kondisi badan untuk menjauhi normalitas. Demikian pula, normalitas pada akhlak merupakan kesehatan jiwa, dan kecenderungan untuk menjauhi normalitas adalah penyakit dan gangguan.” Maka Al-Ghazali menawarkan Mujahadah dan Riyadhatun Nafs (pendidikan akhlak). (Idah Mahmudah)