Dua Model Pendidikan Karakter Baik Menurut Imam Al-Ghazali

Jumat, 2 Agustus 2019 dakwah 43 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Pendidikan karakter menjadi program nasional pemerintah Indonesia. Maksud pendidikan karakter adalah pendidikan nasional memberikan penekanan pada penanaman nilai-nilai kebaikan atau karakter baik. Setidaknya ada lima nilai karakter yang menjadi prioritas pemerintah; religius, nasionalis, integritas, mandiri, dan gotong-royong.

Kelima karakter baik di atas memiliki penjabaran masing-masing. Penjabarannya tidak lain merupakan penerapan prinsip akhlakul karimah sebagaimana diajarkan dalam agama. Dengan demikian, pendidikan karakter yang baik sebenarnya sudah menjadi bagian dalam pendidikan agama. Terkait model pendidikan karakter baik, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa terdapat dua metode dalam penanaman karakter baik (akhlakul karimah).

1. Karakter Baik Alami Anugerah Tuhan

Karakter baik yang diperoleh tanpa melalui proses latihan dan pendidikan. Imam Al-Ghazali berkata,

بجود إلهي وكمال فطري بحيث يخلق الانسان ويولد كامل العقل حسن الخلق (احياء علوم الدين)

“Dengan karunia Tuhan dan sempurna fitrahnya dimana manusia itu diciptakan dan dilahirkan dengan sempurna akalnya dan baik karakter perilakunya” (Ihya’ Ulumuddin)

Jadi, metode alamiah merupakan metode dimana seseorang mendapatkan karunia Allah berupa kesempurnaan fitrah. Ia diciptakan dan dilahirkan dengan sempurna akalnya dan baik akhlaknya. Itu membuatnya mampu menahan dorongan nafsu syahwat dan sikap marah. Bahkan nafsu syahwat dan sikap marah itu pada akhirnya tunduk pada akal dan syara’ sehingga orang itu menjadi orang pandai tanpa belajar dan terdidik tanpa pendidikan.

Dalam metode pertama ini, Al-Ghazhali mengatakan bahwa ada orang yang memang diciptakan dengan sempurna penciptaannya, ia menjadi pandai tanpa belajar dan terdidik tanpa pendidikan, misalnya para nabi. Metode ini tidak dapat diharapkan secara pasti tanpa adanya metode atau faktor lain yang mendukung seperti pendidikan, pengalaman, latihan dan lain sebagainya. Paling tidak metode alami ini jika dipelihara dan dipertahankan akan melakukan akhlak yang baik sesuai fitrah dan suara hati manusia. Metode ini cukup efektif untuk menanamkan kebaikan pada anak karena pada dasarnya manusia mempunyai potensi untuk berbuat kebaikan tinggal bagaimana memelihara dan menjaganya. (Ihya Ulumuddin)

2. Karakter Baik Hasil Pendidikan dan Latihan

Imam Al-Ghazali menjelaskan,

حمل النفس علي الاعمال التي يقتضيها الخلق المطلوب (احياء علوم الدين)

“Mendorong diri mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki oleh akhlak yang diharapkan”

Mujahadah dan Riyadhah adalah melatih diri untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tergolong karakter baik. Barang siapa misalnya ingin mewujudkan karakter dermawan dalam dirinya maka jalannya adalah agar ia memberi beban pada dirinya melakukan perbuatan-perbuatan kedermawanan yaitu memberikan harta, membiasakan dan mewajibkan dirinya pada yang demikian sehingga yang demikian itu menjadi watak dan tabiat baginya sampai yang demikian itu menjadi ringan pada dirinya kemudian memiliki sifat yang pemurah (Ihya Uumuddin)Demikian pula bagi orang yang menginginkan dirinya berhasil berakhlak tawadu (andap asor) dan ia telah dikuasai oleh sifat takabbur maka jalannya adalah ia harus membiasakan melakukan perbuatan orang-orang bertawadhu dalam waktu lama, ia harus membiasakan memaksakan dirinya pada yang demikian dan membebaninya sehingga yang demikian itu menjadi akhlak dan tabiat baginya, kemudian mudahlah melakukannya baginya. Jadi dalam metode Mujahadah ini tidak terlepas dari adanya niat, tuntutan, pembiasaan dan paksaan diri sampai berbentuk akhlak.

Menurut al-Ghazali, semua akhlak yang terpuji menurut syara’ itu bisa berhasil dengan jalan yang demikian. Tujuanya adalah agar perbuatan yang ia lakukan itu menjadi enak. Orang yang pemurah adalah orang yang merasa enak memberikan harta yang ia berikan, bukan yang ia berikan karna terpaksa orang yang tawadhu’ adalah orang yang merasa enak berlaku tawadhu’. Dia menjelaskan bahwa tidak akan melekat akhlak keagamaan pada diri seseorang selama jiwa orang itu belum membiasakan pada adat kebiasaan yang bagus dan belum meninggalkan semua perbuatan yang buruk serta belum membiasakan pada perbuatan yang dibiasakan oleh orang yang rindu pada perbuatan yang bagus. Ia merasa nikmat dengan melakukan perbuatan itu dan merasa benci melakukan perbuatan buruk serta merasa tak enak dengan perbuatan-perbuatan yang buruk.

Jadi, akhlak yang bagus dapat diusahakan dengan latihan (Riyadah), yaitu permulaan memberi beban perbuatan perbuatan yang dilakukannya, agar pada akhirnya perbuatan itu menjadi tabiat hati. Metode ini sangat tepat untuk mengajarkan tingkah laku dan kebiasaan untuk berbuat baik kepada anak didik agar mereka mempunyai kebiasaan berbuat baik sehingga menjadi akhlak baginya walaupun dengan usaha yang keras dan melalui perjuangan yang sungguh-sungguh (Idah Mahmudah)