Dosa Gibah Tak Terampuni, Begini Cara Tobatnya

Selasa, 11 Desember 2018 dakwah 284 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Faza Grafis:Faza

Yang dimaksud menggunjing (ghibah) di sini ialah membicarakan keburukan orang lain di belakangnya atau tanpa kehadirannya. Perbuatan ini dilarang dalam Islam karena akan melukai perasaan sesama dan menciptakan permuuhan serta perpecahan. Allah SWT berfirman,

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik...” (QS.Al-Hujurat: 12)

Kita lupa akan kenyataan bahwa perbuatan kita akan datang kepada kita di akhirat dalam sosok makhluk yang bentuknya sesuai dengan karakter perbuatan itu. Kita tidak tahu bahwa bentuk perbuatan (ghibah) ini adalah bentuk pemakan mayat. Orang yang berbuat ghibah itu menyerupai seekor anjing dalam hal kebuasannya mencabik-cabik kehormatan orang lain dan melahap dagingnya.

Nabi SAW bersabda “Pada malam isra, aku melewati segolongan orang yang mencakar-cakar wajahnya sendiri dengan kuku-kukunya. Kemudian aku bertanya kepada Jibril, ‘wahai jibril, siapakah mereka?’ Jibril menjawab, ‘mereka adalah orang yang suka menggunjing dan melecehkan kehormatan orang lain.”

Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa As. “Barang siapa mati dalam keadaan bertobat dari perbuatan menggunjing, maka ia adalah orang yang paling akhir masuk surga. Barang siapa yang meninggal dalam keadaan terus-menerus menggunjing, maka ia adalah orang yang pertama masuk neraka.”

Al-Faqir berkata, “Banyak sekali hadits-hadits yang berkenaan dengan batalnya wujud shalat dan wujud shaum bagi orang yang menggunjing, dan ini adalah menurut pendapat para sahabat, tabi’in dan semua Imam Madzhab. Jadi orang yang menggunjing sebelum shalat dan tidak bertobat dari menggunjingnya, mereka harus melakukan wudhu kembali dan mengqadha shalatnya, sedangkan bagi yang berpuasa dan dalam puasanya tersebut menggunjing orang lain, maka mereka harus mengqadha kembali puasanya pada hari yang lainnya. Ini adalah pendapat dari Madzhab Ahli Sunnah Wal Jamaah.”

Imam Al-Ghazali berkata, “Menggunjing tak hanya terbatas pada kata-kata saja, melainkan lebih luas daripada itu, seperti menirukan kekurangan orang buta, pincang dan lainnya. Begitu pula dalam hal tulisan, karena tulisan merupakan salah satu dari dua lisan. Ketika seorang penulis menyebutkan orang tertentu, dan menghina pembicaraannya melalui tulisannya, maka hal tersebut termasuk menggunjing. Namun jika menyebutkan kelemahan (kesalahan) pendapat orang lain dengan mengemukakan dan menjelaskan dengan hujjah yang lebih tepat dan kuat, maka hal tersebut dapat dibenarkan.”

Dalam buku ‘Iqlab al-A’mal disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa dalam sebuah hadits panjang, di antaranya Rasulullah SAW bersabda:
“....barang siapa berjalan dengan menggunjing saudaranya dan membuka keburukan-keburukannya, langkah pertama yang dilakukannya telah dia letakkan di neraka, dan Allah akan membuka keburukan-keburukannya di depan semua makhluk.”Diriwayatkan dalam kitab Al-Majalis wa Al-Khabar dengan isnad-nya dari Muhammad ibn Al-Hasan dari Abu Dzarr dari Nabi SAW. Yang ketika menasehatinya berkata, “Wahai Abu Dzarr, waspadalah dari perbuatan ghibah, sebab ghibah lebih berat (dosanya) daripada zina” Aku (Abu Dzarr) berkata, “Mengapa demikian Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Itu karena apabila seseorang melakukan zina dan lalu bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya. Namun ghibah tidak diampuni kecuali setelah diampuni oleh korbannya.”

Secara praktis, hentikanlah kebiasaan burukmu dari perbuatan dosa ini, meskipun terasa sulit bagimu. Kekanglah lidahmu dan awasilah selalu dirimu. Manusia tidak boleh sekali-kali menganggap dirinya aman dari tipu muslihat hawa nafsunya. Tipu mulihat hawa nafsu itu sangatlah lembut, manusia dapat dijerumuskannya atas nama syari’at ke dalam bahaya mengerikan. Orang juga harus memeriksa apakah motif pribadinya dalam melakukan ghibah ini semata-mata demi Allah dan syari’at, atau didorong oleh motif setani dan egoisme. Diriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya sendiri sehingga tidak sempat memperhatikan aib orang lain.” (Idah Mahmudah)