Adab Mengutip Al-Qur’an Sebagai Dalil

Selasa, 18 Desember 2018 dakwah 294 klik
Ida Mahmudah Teks:Ida Mahmudah
Vanny Rosa Grafis:Vanny Rosa

Kata dalil berasal menurut bahasa berarti petunjuk menuju sesuatu, baik yang bersifat material maupun non material. Sedangkan menurut istilah, dalil merupakan suatu indikator yang dijadikan landasan berpikir yang benar dalam memperoleh hukum syara’.

Jika seseorang ingin berdalil dengan ayat, ia bisa mengatakan yaqulullahu ta’ala (Allah ta’ala berfirman) atau qalallahu ta’ala (Allah ta’ala telah berfirman). Tidak ada yang makruh dari keduanya. Hal ini berdasarkan pendapat shahih yang dipilih dan dipraktikkan oleh ulama salaf dan khalaf.

Berikut adalah beberapa keterangan yang membahas terkait berdalil dengan ayat Al-Qur’an. Ibnu Abi Daud meriwayatkan dari Mutharif bin Abdullah bin Syukhair, seorang tabi’in yang masyhur, ia berkata janganlah kalian katakan Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, akan tetapi katakanlah sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman’.

Apa yang diingkari oleh Mutharif berseberangan dengan apa yang diriwayatkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, praktek para sahabat dan orang-orang setelah mereka.

Dalam Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Dzar, ia berkata, Nabi pernah bersabda, “Allah ta’ala berfirman, ‘Barang siapa berbuat kebaikan niscaya ia mendapat balasan sepuluh kali lipat balasannya’”. (HR.Muslim)

Dalam Shahih Bukhari menenai tafsir surah Ali Imran ayat 92, “Abu Thalhah berkata, ‘Wahai Rasulullah, Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya: (artinya) kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta kamu yang kamu cintai’”.(HR. Bukhari)

Ini adalah perkataan Abu Thalhah ketika Nabi Saw sedang bersamanya. Dalam kitab Shahih terdapat riwayat Masruq yang berkata, Aku bertanya pada Aisyah ra. ‘Bukankan Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Sungguh, dia (Muhammad) telah melihat-Nya di ufuk yang terang?’Ia menjawab,’Tidakkah kamu mendengar Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : ‘Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu’. Apakah kamu belum mendengar Allah Ta’ala berfirman (yang artinya,’dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu’” kemudian dalam hadits ini, Aisyah juga berkata : ‘kemudian Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): ‘wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu’”. Kemudian, ia juga berkata, “dan Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘katakanlah (Muhammad), ‘tidak ada sesuatupun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan’”. (HR. Bukhari)

Demikian penjelasan mengenai pendapat ulama salaf berkaitan dengan bagaimana adab mengutip ayat Al-Quran (Idah Mahmudah)